Biar Pendakian Lebih Bermakna, Ini yang Dilakukan Pendaki Zaman Dahulu - JELAJAH LAGI - Let's Start Exploring

Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Yes

Home Layout Display

Posts Title Display

Yes

READ ON YOUR LANGUAGE

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

mountains - Foto oleh Idris Hasibuan dari PixabayMendaki sebuah gunung bukan hanya melulu soal sampai puncak dan melihat matahari terbit dengan lautan awan nya. Tapi ternyata justru ada beberapa hal yang mendasar yang akan membuat sebuah pendakian begitu berkesan. Bahkan tanpa membuat seorang pendaki rindu untuk mendaki gunung tersebut berkali-kali.

Pada zaman sekarang memang banyak yang melakukan pendakian hanya sebatas demi sebuah konten atau hanya ikut-ikutan saja. Sebenarnya mereka tak tahu esensi dan kadang tak menemukan dan merasakan sesuatu yang mendasar yang membuat jiwa ini terasa tenang dan terinspirasi.

Berbeda dengan pendaki zaman dahulu yang begitu mudahnya merasakan esensi dari sebuah pendakian. Dan membuat mereka rindu untuk kembali berada di gunung lagi dan lagi. Karena bagi mereka gunung bukan hanya tentang puncak dan pendakian nya.

Tapi gunung adalah ibu, gunung adalah sahabat dan gunung adalah keluarga. Dimana menjadi tempat untuk menemukan inspirasi tanpa interupsi. Menemukan saudara baru tanpa menggerutu, dan cerita-cerita malam yang penuh dengan kenangan.

Dan ini dia beberapa hal yang dilakukan oleh pendaki zaman dahulu untuk membuat sebuah pendakian lebih bermakna dan tak hanya mendapatkan puncak dan pemandangan indahnya sebuah gunung.


1. Tawarkan Kopi atau Camilan


Teringat ketika kita sedang lelah berjalan dalam pendakian dan tiba-tiba sebuah lontaran pertanyaan terdengar, "Mas, ngopi dulu sini." Nah ini bukan kang kopi keliling yang nawarin ya tapi rombongan pendaki lain yang sedang istirahat untuk melepas lelah sambil membuat kopi dan mie instan di samping jalur pendakian.

Foto olehStocksnap dari pixabay
Foto olehStocksnap dari pixabay
Jika kamu menemukan atau mengalami ini maka berhentilah, dan hampiri mereka. Berbaur dan nikmati kopi persahabatan buatan mereka sambil berbincang hangat dan berkenalan. Disaat itulah kau telah menemukan salah satu makna dari pendakian yakni menemukan saudara baru.

Tentu saat kau duduk bersama mereka jangan lupa untuk membuka bekal kamu juga semisal roti atau camilan mu dan tawarkan pula kepada mereka. Karena saling berbagi itu sangat manis rasanya tak akan pahit sekali seperti kopi yang tak melulu pahit.

Namun pendaki zaman sekarang jarang yang melakukannya bahkan kalau ada yang menawari kopi pun kadang kala menolak karena alasan teman rombongannya sudah jauh. Percayalah mereka yang menawarkan kopi atau camilan di jalur pendakian adalah orang-orang yang tulus dan ingin membuka percakapan dengan kalian.


2. Kesunyian Gunung


Pendaki zaman dahulu adalah orang-orang yang beruntung saat mendaki gunung. Karena mereka akan mendapatkan kesunyian yang tenang dan menenangkan di gunung. Yang ada hanya suara desiran angin, tonggeret, jangkrik, dan serangga-serangga hutan lainnya.

Foto oleh riyan hidayat dari Pixabay
Foto oleh riyan hidayat dari Pixabay

Itulah mengapa para pendaki zaman dahulu lebih paham dan mampu memaknai pendakian gunung adalah sebuah upaya untuk mendapatkan ketenangan batin dan mereguh sebuah inspirasi dari alam. Dengan meninggalkan hiruk pikuk di perkotaan yang sulit sekali menemukan ketenangan.

Namun sekarang kesunyian gunung telah berubah dengan berkembangnya teknologi dan banyaknya pendaki zaman sekarang yang membawa alat pemutar musik. Dan di sepanjang perjalanan dengan egois ia memutar musik kesukaannya sendiri tanpa mempedulikan sekitar.

Apakah orang lain suka lagu tersebut atau tidak dan tentu yang utama apakah alam dan binatang disana suka dengan lagu yang diputar itu dan tak mengganggu mereka. Ingat kita adalah pendaki dan kita adalah tamu di gunung, maka seyogyanya kita tetap untuk menjaga dan tak mengganggu ketenangan dan kesunyian dari sebuah gunung.


3. Puncak Yang Sepi Tanpa Fotografi


Memang tak ada yang salah juga dengan sebuah fotografi dan tentunya itu sangat bermanfaat untuk mengabarkan keindahan alam Indonesia lewat sebuah foto atau video. Lanskap hijau dan hamparan hutan serta lautan awan ditambah cahaya matahari pagi membuat siapapun pasti mengeluarkan peralatan fotografinya walaupun hanya sebuah handphone.

mount-prau-foto oleh fajar ardianto as dari pixabay
Foto oleh fajar ardianto as dari pixabay
Satu demi satu foto dan video mulai direkam kedalam kamera dan handphone dan kadang tak mempedulikan keadaan sekitar. Karena demi sebuah foto yang bagus kita lupa menikmati dan meresapi sebuah keindahan sunrise di puncak gunung. Keindahan lanskap kota dengan hamparan langit birunya dari ketinggian, dan taburan bintang gemintang dilangit malam yang cerah serta hamparan lautan awan yang luas.

Tak ada lagi menanti mentari terbit dengan secangkir kopi dan persahabatan. Karena pendaki zaman sekarang akan sibuk dengan eksistensi mereka dan secangkir kopi akan digantikan dengan kalimat, "Tolong fotoin donk kaya gini."

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa hampir 90% orang yang pergi ke gunung dan hanya sibuk menangkap keindahan lanskap dengan kamera saja. Tak mampu mendeskripsikan atau menceritakan kembali sebuah keindahan yang terjadi di alam. Karena mereka hanya fokus bagaimana mendapatkan foto atau video yang bagus dan mengorbankan pikiran yang tak mendapat rangsangan dengan menikmati langsung keindahan alam tersebut.

Berbeda dengan orang yang tak membawa kamera, mereka justru mampu menceritakan keindahan lanskapnya dengan jelas dan detail karena mereka merekam lewat mata dan pikirannya. Bahkan tak jarang hatinya juga ikut bisa memaknai pemandangan yang dilihatnya.

Memang tak ada salahnya mengabadikan lanskap lewat kamera tapi ingat abadikan juga lanskap dan keindahan gunung lewat mata, pikiran serta hatimu. Bukankah kau para pendaki selalu mengagung-agungkan kata-kata "muda bertualang tua bercerita" dan tentu ini sangat menarik untuk diceritakan dengan sepenuh hati untuk menunjang foto yang kau tunjukkan kepada anak cucu mu kelak. Karena cerita yang keluar dari hati akan diterima dengan hati pula. Tapi kadang juga ketika kau bicara dari hati ke hati kepada dia, dia justru nolak kamu, eh.


4. Obrolan Dengan Pendaki Lain


Salah satu kehangatan di gunung itu bukan hanya sebuah api unggun. Justru perbincangan dengan teman satu rombongan atau bahkan rombongan lain sambil menyeruput kopi dan menikmati bintang-bintang di langit cerah itu jauh lebih hangat.

Foto oleh riyan hidayat dari Pixabay
Foto oleh riyan hidayat dari Pixabay

Meskipun obrolan yang terjadi tak karuan dari mulai topik pengalaman mendaki, hingga pengalaman putus cinta pun tak apa diceritakan. Karena justru di sanalah sebuah kehangatan yang membuat kita rindu untuk kembali mendaki gunung meskipun dengan orang yang lain.

Dan saat masak makan malam atau sarapan ikutlah membantu jangan malah masuk tenda dan kembali tidur atau malah mainan handphone. Karena biasanya saat mask itulah akan terjadi obrolan panjang yang bahkan kadang bisa membuat kamu semakin kaya dengan pengalaman dan pengetahuan dari obrolan tersebut.

Apalagi jika kamu bisa berbincang dengan tenda sebelah pasti bakalan seru dan mendapatkan banyak pengalaman serta pengetahuan dari mereka. Selain itu kamu juga akan mendapatkan teman baru sekaligus keluarga baru.

Dan bagi pendaki zaman dahulu ini sangat mudah dilakukan karena kadang hanya ada beberapa pendaki saja dan untuk membunuh waktu kadang mereka berkumpul bersama membuat api unggun dan mulailah bercerita.

Tapi untuk pendaki zaman sekarang disaat peralatan sudah mulai mudah didapatkan mungkin akan jarang pinjam atau minta ini itu ke tenda sebelah. Karena tentu persiapan mendaki mulai dari peralatan dan logistik sudah dipersiapkan dengan lengkap.

Namun tak ada salahnya bawa kopi atau makanan lebihan ke tenda sebelah untuk memulainya. Dengan cara itu kamu bisa memulai masuk ke lingkungan tenda sebelah dan tanpa dikomando rentetan pertanyaan dan jawaban akan mulai saling menyahut diantara kamu dan mereka.

Selain itu saat turun gunung pun kalian bisa ngobrol sama pendaki lain loh. Sapa aja mereka yang juga tengah beristirahat dan mulailah pedekate biar bisa nemu kenalan baru.

Nah berawal dari sini lah sebuah makna pendakian akan terwujud dimana saat naik cuma berdua dan pas turun berkeluarga, eh. Maksudnya banyakan gitu kaya keluarga karena kamu berhasil main ke tenda sebelah dan berbagi pengalaman dalam obrolan perkenalan dan menjadi pertemanan yang bermuara pada persahabatan dan kekeluargaan.


5. Kedekatan dengan Petugas Basecamp


Dahulu memang sangat mudah sekali berbincang dengan bapak petugas basecamp pendakian. Mulai dari bertanya tentang medan pendakian hingga tips-tips dalam mendaki dan pengalaman mereka saat mendaki gunung. Bahkan mereka tak sungkan untuk membuatkan kopi hangat sebagai teman ngobrol loh.

Basecamp Prau via Dieng foto oleh Instagram @lets.go.again_pink
Basecamp Prau via Dieng foto oleh Instagram @lets.go.again_pink

Itu dulu ya kalau sekarang mah berbeda banget. Karena semakin banyaknya pendaki maka bapak petugas basecamp lebih sibuk untuk mengurusi registrasi para pendaki. Bahkan kalau pun ada waktu luang biasanya mereka gunakan untuk istirahat.

Bahkan saat pemeriksaan atau ceklis persyaratan dan perlengkapan pendaki kini hanya dilakukan dengan cepat karena sudah ada rombongan lain yang harus di ceklis. Jadi intinya ketika pendakian zaman dahulu itu masih sepi pendaki sehingga banyak waktu luang bagi bapak petugas basecamp. Tapi sekarang dengan semakin populernya pendakian gunung maka tentu sibuk juga bapak petugas basecampnya.

Sehingga tak bisa bertukar cerita lewat sebuah pertanyaan dan jawaban yang biasa dilakukan oleh pendaki zaman dahulu.

Nah itulah beberapa poin yang membuat pendakian yang kita lakukan lebih bermakna seperti para pendaki zaman dahulu yang kini sudah senior dan banyak pula yang sudah gantung sepatu. Tapi ingat kamu jangan sampai mau di gantung juga perasaannya sama pendaki glowing di puncak gunung yang minta di fotoin ya, ups. Semoga pendakian kamu bisa lebih bermakna setelah membaca tulisan ini.

Salam lestari!
Jangan pernah berhenti bertualang karena manisnya bertualang ada dalam sebuah cerita yang kau ceritakan kepada anak dan cucu-cucu mu dan orang lain.

Leave A Reply

Jelajah Lagi

[name=Jelajah Lagi]' [img=https://2.bp.blogspot.com/-yy7enBa5kPk/YB9HjBmoPxI/AAAAAAAAAzQ/_igUl5NXKxs5FrIDlvdtAe_6fvo072mGACK4BGAYYCw/s997/logo%2BJelajah%2Blagi%2Bprofil.png] [description=Kami mengulas berbagai hal menarik tentang petualangan, pendakian gunung dan traveling serta perlengkapan outdoor untuk menunjang aktifitas alam bebas](facebook=https://www.facebook.com/jelajahlagiid)(instagram=https://www.youtube.com/channel/UC7AkelMiZQqAi-0XlO_r4HA)