Anak Gunung Atau Anak Pantai, Kamu Pilih Yang Mana? - JELAJAH LAGI - Let's Start Exploring

Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Yes

Home Layout Display

Posts Title Display

Yes

READ ON YOUR LANGUAGE

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page
anak gunung atau anak pantai

Beberapa waktu lalu ada pembaca setia jelajahlagi.id yang request untuk membahas tentang anak pantai. Nah makanya kali ini kita akan membahas apa saja perbedaan sikap antara anak gunung dan anak pantai.

Sebelum membahas lebih jauh kita kenalan dulu apa itu anak gunung dan apa itu anak pantai. Ada istilah "Jika sudah cinta gunung kan kudaki lautan kan kuseberangi." Hayooo siapa yang sering gombalin si dia pake kalimat itu.

Usut punya usut ternyata itu identik dengan anak pantai dan anak gunung loh. Anak gunung sendiri adalah anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang suka main ke gunung atau bisa disingkat pendaki gunung. Biasanya identik dengan keril gede dan perlengkapan outdoor yang lengkap serta pecandu ketinggian.

Nah anak pantai itu adalah anak-anak yang suka bermain dengan ombak dan kecanduan dengan angin laut yang spoi-spoi serta suka main sama pasir di pantai.

Dan ternyata kepribadian antara anak pantai dan anak gunung berbeda loh dilihat dari beberapa karakter yang ada pada keduanya.

1. Extrovert atau Introvert


Ini dia salah satu kepribadian yang bisa dilihat dan beda banget antara anak gunung dan anak pantai. Dimana anak gunung itu cenderung lebih nyaman dengan suasana yang tenang, nyaman, sepi dan adem. Selain itu anak gunung juga lebih tahu bagaimana caranya untuk menikmati keindahan bentang alam.

Karena kecenderungan tersebut memang anak gunung lebih diidentikan dengan kepribadian yang intovert atau tertutup. Dimana kecenderungan Introvert juga lebih nyaman dengan kesendirian, ketenangan dan nyaman jika sendiri.

Anak Pantai Extrovert foto Anna Shvets
Foto Anna Shvets dari Pexels
Ini berbeda dengan anak pantai yang identik lebih extrovert atau pribadi yang terbuka. Karena pantai memang lebih ramai daripada di gunung. Selain itu anak pantai memang suka dengan keramaian, dan suka jadi pusat perhatian serta sangat senang berada di kelompok yang besar.

2. Cepat Bosan atau Gampang Nyaman


Nah dua sikap ini juga menentukan apakah kamu cocok jadi anak gunung atau anak pantai. Baiklah kita bahas dari anak gunung dulu, memang kegiatan mendaki gunung selalu dipenuhi hal-hal yang tak terduga misalnya cuaca yang berubah begitu cepat dan trek yang selalu berbeda setiap kali mendaki. Dan hal tersebut justru sangat disukai oleh para pendaki dan menimbulkan kepuasan tersendiri bagi mereka.

Maka dari itu, anak gunung ini cenderung memiliki sikap yang cepat bosan dan cenderung untuk mencari dan tertarik akan hal-hal baru. Tapi tak selamanya yang cepat bosan itu negatif ya, justru dengan sikap ini kamu bisa mengeksplor lebih dalam lagi tentang suatu tempat sehingga inspirasi yang kamu dapat akan melimpah.

Selain itu sikap cepat bosan ini juga mendorong para pendaki untuk kembali mendaki di gunung yang lain. Dan akhirnya berubah menjadi candu untuk terus mendaki dan mendaki lagi.

anak pantai itu cepat nyaman
Foto oleh Asad Photo Maldives dari Pexels
Lalu jika kamu memiliki kepribadian gampang nyaman, kamu lebih cocok menjadi anak pantai nih. Karena anak pantai selalu gampang nyaman ketika berada di pantai. Meskipun sama-sama menyenangkan seperti gunung tapi pada dasarnya pantai hanya menyuguhkan pemandangan yang itu-itu saja. Ombak bergulung, dan garis horizon bumi serta mentari tenggelam.

Berbeda dengan gunung yang selalu memiliki tipikal medan dan kontur yang berbeda antara gunung yang satu dengan yang lain.

3. Teliti atau Suka Improvisasi


Jika kamu adalah orang yang teliti maka kamu cocok menjadi anak gunung namun jika kamu lebih suka berimprovisasi maka kamu sangat cocok bermain di pantai dan menjadi anak pantai ya.

anak gunung itu teliti
Foto Baihaki Hine
Dalam mendaki gunung memang kita dituntut untuk melakukan persiapan dan ketelitian sampai hal-hal yang detail. Selain itu peralatan yang diperlukan untuk pendakian juga lumayan banyak. Sehingga dituntut untuk lebih teliti dalam membawa perlengkapan karena jika tertinggal maka akan kerepotan nanti pas di gunung.

Mulai dari perencanaan transportasi ke Basecamp pendakian hingga nanti di gunung mau masak apa  hingga ritme pendakian pun menjadi sebuah perhatian utama para pendaki. Dan sikap teliti ini sangat membantu dalam perencanaan pendakian sehingga perlegkapan yang dibawa bisa lebih efisien dan tepat.

Setiap permasalahan yang terjadi selama pendakian pun akan dihadapi dengan cara yang terstruktur, terencana dan pastinya detail. Karena jika lupa saja bawa penyedap rasa maka otomatis diatas gunung semua makanan yang dimasak akan hambar. Jadi ya memang teliti ini menjadi salah satu sikap yang melekat pada diri seorang pendaki atau anak gunung.

Hal ini berbeda dengan anak pantai yang lebih suka berimprovisasi. Mereka sering membuat keceriaan dadakan saat liburan di pantai dan cenderung gampang berimprovisasi hingga mampu keluar dari kebiasaan.

Seperti angin laut yang berhembus santai, begitu pula cara anak pantai menghadapi hidup ini dan menyelesaikan masalahnya. Bahkan biasanya anak pantai hanya perlu membawa kamera atau cemilan sedikit serta baju ganti saja tanpa harus memikirkan peralatan masak dan bahan masakan. Karena di pantai itu pasti banyak warung-warung yang berjejer melambai-lambai untuk disinggahi.

Nah di gunung? ada sih di beberapa gunung warung yang berdiri seperti salah satu warung tertinggi di Indonesia yakni warung Mbok Yem di Hargo Dalem Gunung Lawu. Tapi tetap saja anak gunung lebih memilih membawa bekal sendiri dan memasaknya bersama-sama dan kalau misal lagi muncak ke Ciremai masa mau mkan harus ke Lawu dulu buat beli nasi pecel Mbok Yem?.

4. Ambisius atau Biasa Saja


Ternyata, kamu juga bisa mengetahui apakah kamu seseorang yang ambisius atau yang biasa saja dengan kemana kamu memilih tempat berlibur loh.

Jika kamu memilih ke gunung maka kamu cenderung memiliki sikap yang ambisisus. Hal ini tentu saja karena anak gunung itu aka dihadapkan pada trek pendakian yang curam dan banyak tantangannya. Jika kamu tak punya sikap ambisius ini lebih baik jadi anak pantai aja deh yang bisa leyeh-leyeh sambil makan es kelapa muda lansung dari kelapanya.

anak gunung itu ambisius
Foto Suliman Sallehi dari Pexels
Akan gunung itu akan selalu menghadapi tantangan yang lebih berat dibanding anak pantai. Ia harus melewati trek curam dan berbahaya di jalur pendakian untuk sampai ke puncak. Ini membuat mental anak gunung memang lebih kokoh karena alam mengajari mereka untuk tetap berjuang hingga tujuan tercapai.

Anak gunung juga sudah terbiasa degan akses ke gunung tersebut tak mudah. Bahkan di beberapa gunung kendaraan tak bisa sampai ke basecamp. Dan hal tersebut membuat nak gunung harus memulai treking berjalan kaki dari bawah sampai ke basecamp dan dilanjut setelah registrasi dari basecamp hingga ke puncak.

Sementara anak pantai sudah sangat enak banget bahkan mobil yang segede gaban bisa sampai ke pantainya langsung. Dan aksesnya pun tak sesulit yang dilalui oleh anak-nak gunung sehingga anak pantai cenderung tak memiliki sikap yang ambisius. Bisa dibilang anak pantai itu orangnya "let it flow" aja.

5. Pecinta Senja atau Pecinta Pagi


Jika kamu penyuka matahari terbenam dengan segala keromantisannya maka kamu bisa mengunjungi pantai dan menjadi anak pantai. Tapi jika matahari terbit begitu memikatmu maka dakilah gunung dan jadilah anak gunung. Karena dari ketinggian kamu bisa melihat mentari terbit bersama dengan lautan awan yang menakjubkan.

Senja di pantai itu adalah senja terbaik yang mampu membuat setiap mata terpukau. Dan ini menjadi tujuan utama para anak pantai yang memang mengerti tentang keindahan terbaik dari pantai.

anak gunung pecinta pagi sunrise
Foto oleh AbhiramPrakash dari Pexels
Tapi anak gunung itu selalu rela bangun tengah malam dan melakukan perjalanan summit attack ditengah gelap gulita dan udara dingin untuk satu tujuan. Yakni menyaksikan terbitnya sang mentari dan lautan awan yang terbentang luas menyelimuti dengan indahnya di titik tertinggi.

6. Romantis atau Realistis


Wah kalau membahas antara romantis dan realistis tentu kalian sudah bisa menebaknya kan siapa yang paling romantis dan siapa yang realistis. Ya jawabannya adalah anak pantai lebih romantis ketimbang anak gunung. Namun ternyata anak gunung pun banyak yang romantis kok tapi romantis realistis.

anak-pantai-romantis-foto-asad-photo-maldives
Foto oleh Asad Photo Maldives
Anak pantai yang cenderung memiliki kepribadian yang extrovert memang sangat mudah sekali untuk menyatakan perasaan kepada orang yang ia suka. Ditambah lagi suasana sunset di pantai memang terkesan romantis dan bisa menjadi waktu dimana anak pantai nembak anak gunung di pantai eh malah main tembak-tembakan. Maksudnya nembak seseorang yang memang sudah diincar untuk mendampingi sisa hidup ini.

Pasti romantisnya dapet banget dan feelnya kerasa karena menyatakan perasaan saat sunset. Lalu jika diterima maka bisa langsung lanjut ke sweet dinner di pantai, uwuw banget ya.

Nah berbeda dengan anak gunung yang lebih realistis. Mereka akan lebih mencoba menikmati perjalanan pendakian. Karena pada dasarnya mendaki gunung adalah miniatur perjalanan hidup dan semakin sulit jalur pendakian maka kamu akan lebih realistis lagi untuk melewatinya.

Selain itu digunung pun atmosfeernya berbeda dengan di pantai dimana antar sesama pendaki atau anak gunung itu sudal layaknya seperti saudara. Dimana jika ada satu pendaki yang lagi kecapean maka selalu ada yang nyemangati.

Tapi jangan salah di bandingkan anak pantai anak gunung ini memiliki mental sekuat baja yang sudah diasah setiap kali mendaki gunung. Jadi sekalinya kamu suka sama anak gunung kebanyakan mereka memiliki sikap setia.

Pandangan realistis yang dimiliki anak gunung pun mampu membawa keuntungan dalam menjalani kehidupan. Karena mereka cenderung mampu memilih langkah yang tepat dalam menentukan keputusan hidup. Karena romantis saja itu kurang dan romantis yang realistis itu lebih baik.

Lalu karena ini ada yang bilang banyak pendaki atau anak gunung yang betah menjomblo. Saya gak bisa menyangkal sih, karena anak gunung itu sudah kadung cinta sama gunung itu sendiri beserta isinya. Namun jangan salah anak gunung pun bisa romantis bahkan bisa mengalahkan anak pantai soal keuwuannya.

Jadi kamu lebih suka jadi anak gunung atau anak pantai nih? Atau mau jadi ibu atau ayah dari anak-anak kita, eh.

Salam lestari dan salam santuy ala anak pantai.
Leave A Reply

Jelajah Lagi

[name=Jelajah Lagi]' [img=https://2.bp.blogspot.com/-yy7enBa5kPk/YB9HjBmoPxI/AAAAAAAAAzQ/_igUl5NXKxs5FrIDlvdtAe_6fvo072mGACK4BGAYYCw/s997/logo%2BJelajah%2Blagi%2Bprofil.png] [description=Kami mengulas berbagai hal menarik tentang petualangan, pendakian gunung dan traveling serta perlengkapan outdoor untuk menunjang aktifitas alam bebas](facebook=https://www.facebook.com/jelajahlagiid)(instagram=https://www.youtube.com/channel/UC7AkelMiZQqAi-0XlO_r4HA)