Kisah Mistis Dibangunin Summit Oleh 2 Pendaki Misterius di Gunung Slamet via Permadi Guci

kisah mistis gunung slamet via permadi guci - foto instagram jalalludinj


Mendaki gunung memang mampu membuat kita bersyukur dan juga bisa berkenalan dengan alam dan segala isinya. Dan tentu saja hal tersebut tak jarang membuat candu dan begitu menarik untuk kembai ke gunung tersebut. Itu pun terjadi pada saya (panggil saja Adi) yang sudah jatuh cinta ke jalur pendakian Gunung Slamet via Permadi Guci sejak pendakian pertama pada Februari 2021 lalu.

Namun sayangnya di pendakian pertama ini saya gagal summit attack dan hanya sampai di Camp Area Pos 4 saja. Karena mengalami batuk-batuk akibat diguyur hujan lebat terus menerus dari mulai pos 1 hingga ke pos 3. Ditambah lagi memang badan agak kurang fit karena kebanyakan begadang lembur kerja.

Hingga malam harinya mulai batuk-batuk terus dan badan agak menggigil (tapi bukan kena gejala hipo ya) dan tak bisa tidur. Akhirnya paginya gak summit attack dan turun duluan bareng 2 orang teman yang juga gak ikut summit karena spatu jebol dan juga agak kurang fit karena dihantam hujan lebat pas pendakian kemarinnya.

Pada awal September 2021 tiba-tiba mba Ani mengirim pesan dan ngajakin ke Slamet via Permadi lagi karena nganter temannya dari solo yang pengin ke sana. Akhirnya ya kita sepakat awal Oktober gas ke Slamet via Permadi Guci sekalian saya remidi summit attacknya. Mba Ani sendiri merupakan spesialis koki gunung andalan dan yang pertama kali ngajakin saya ke Slamet via jalur Permadi Guci dulu.

Singkat cerita awal Oktober pun tiba dan kita janjian di basecamp Permadi Guci dimana saya sendiri dan mba Ani bersama 2 orang teman lainnya Mas Catur orang Slawi dan Mas Rona yang asalnya dari Solo sementara kalau mba Ani sendiri gak jelas asalnya katanya karena Rumah di Magelang dan domisili di Jogja, he he he. Kalau saya sendiri asli dari Brebes barat perbatasan sama Jawa Barat dimana bisa bahasa Sunda sama Jawa, eh.

Jam 9 siang kita mulai repacking di basecamp Permadi Guci setelah sebelumnya berbincang dengan pak Burhan Ali yang merupakan salah satu pengurus basecamp Permadi Guci. Karena pendakian kita pada weekend alias Sabtu Minggu 2-3 Oktober 2021 sehingg basecamp lumayan rame oleh para pendaki dari daerah lain.

Namun kebanyakan mereka dari rombongan Karawang, Bekasi, Cikampek yang merupakan open trip. Lalu ada beberapa kelompok kecil yang dari Bandung, Cirebon, dan tentu kelompok kita yang gado-gado karena gak bisa dibilang mewakili satu kota tapi gunung yang menyatukan kita.

Jam setengah 10 pagi kita mulai melangkah dan memulai pendakian setelah sebelumnya foto bareng di depan basecamp bersama pak Burhan buat kenang-kenangan. Kalau kata mba Ani sih mumpug masih pagi dan muka masih seger dan cakep.

Sesuai kesepakatan saya sendiri memilih berjalan kaki dari basecamp karena memang mau bikin konten video kan sayang banget kalau naik ojek, buat menghemat pengeluaran juga sih, eh. Sementara Mba Ani dan Mas Rona naik ojek sampai gerbang Permadi Junggle (batas ladang) sementara Mas Catur ngojek sampai pos 1 karena memang sudah vakum mendaki lebih dari 1 tahun sehingga tak mau ambil resiko memperlambat jalan kita.

Singkat cerita akhirnya saya sampai juga di Gerbang Permadi Junggle dan sudah di tunggu oleh Mba Ani dan Mas Rona. Dan kini tinggal lanjut ketemu sama Mas Catur yang menunggu di pos 1. Menurut saya sayang juga sih kalau ngojek langsung ke pos 1 karena sebenarnya view utama jalur Permadi Guci berada di antara Permadi Junggle hingga pos 1. Jadi buat foto-foto cucok banget deh viewnya bagus ditambah lagi kita lewatin beberapa kali dan air terjun aka curug.

Sama selama perjalanan ke pos 1 itu isinya bonus semua loh karena yang nanjaknnya isa dihitung jari loh. Menurut saya ini sangat enak buat pemanasan kaki dan tenaga serta aklimatisasi tubuh terhadap cuaca dan keadaan di jalur pendakian ini. Setelah berjalan sekitar 1,5 jam akhirnya kita sampai di pos 1 sekitar jam 11 an. Istirahat sejanak dan akhirnya kita lanjut lagi memulai menapaki hutan lumut jalur permadi Guci dengan trek menanjak.

Awalnya pendakian berjalan seperti biasa hingga Mas Catur merasakan troubel pada kakinya karena sudah lama gak naik gunung. Ya ibaratnya otot-otot kakinya kaget karena dah lama gak diajak piknik ke gunung. Untung kagetnya gak bilang ayam-ayam-ayam digreng dadakan, eh.

Kita pun memperlambat tempo pendakian untuk mengimbangi Mas Catur sembari sesekali berbincang dengan pendaki dari rombongan lain. Dan saat ketemu dengan rombongan Cirebon ada salah satu anggota mereka yang mendaki tanpa alas kaki alias nyeker.

"Mas kok mendaki nyeker?" tanya saya penasaran.

"Udah biasa kaya gini lebih enak mas," jawabnya sambil senyum dan mengatur nafas.

"Kirain lagi latihan ilmu apa gitu atau lagi ngetes sepatu model baru, spatu transparan" sontak si mas dan teman-temannya langsung pada ketawa.

Memang obrolan-obrolan ringan seperti ini saat di trek begitu bikin rindu dan siapa tau kalian bisa ketemu jodoh gara-gara obrolan ringan di trek pendakian kaya gini. dari awalnya cuma iseng nyemangatin tiba-tiba berlanjut ke kenalan hingga sampai puncak bareng lalu pas udah sampe bawah eh ditinggali, ups.

Tak lama kemudian saat mau istirahat di pinggir jalur tiba-tiba Mba Ani menemukan kacamata hitam yang tergeletak di batang kayu yang jadi tempat duduk di pinggir jalur. Akhirnya kita tanykan ke rombongan bekasi yang ada di depan kita namun tak ada yang kehilangan kacamata. Hingga sambil berjalan saya terus menanyai rombongan pendaki yang sedang istirahat karena siapa tahu ada salah satunya pemilik kacamata tersebut.

Namun beberapa rombongan yang ditanya tak ada yang kehilangan kacamata hitam tersebut. Lalu kita berjalan lagi dan Mba Ani yang berada di depan saya tiba-tiba bilang, "Di, cob tanya itu bapak tua itu siapa tahu kacamatanya." sambil memberi isyarat ke saya ke Bapak Tua yang sedang istirahat di pinggir jalur memakan snack coklat sendirian. Padahal pas papasan di bawah berdua sama temannya dan ternyata temannya istirahat sekitar 10 meter dari bapak tua itu.

"Pak, kacama...." belum juga selesai bertanya tapi tiba-tiba si bapak menggeram sambil melihat kearah saya dengan tatapan tajam dengan muka pias sambil menggeram "hrrrmmrmmmm hrrrmrmmmm...." namun agak pelan.  Pkoknya kaya orang gak suka dan sedikit horor gitu deh bahkan perasaan saya juga gak enak banget. Dalam hati wah ini sih gak bener nih apa karena saya kurang sopan nunjukin kacamata.

Saya pun melewati si bapak sambil bilang misi pak, dan baru saja sekitar lima langkah melewatinya tiba-tiba geramannya semakin kencang dang seperti geraman harimau. Bahkan Mas Rona yang sedang backup mas Catur di depan mba Ani langsung sadar karena geraman tersebut.

Dengan cepat teman si bapak itu langsung turun dan mencoba menenangkan si bapak. Saya dan mas Rona pun ikutan turun karena ini sepertinya ada sesuatu. Mas Rona yang juga pernah dapat pelatihan sebagai SAR pun melakukan beberapa pertolongan dan langsung mengetahui kalau si bapak ini ketempelan. Ditambah lagi muka si bapak ini pucat pasi banget kaya orang mau pingsan gitu.

Namun si bapak masih menggeram-geram lalu saya coba buka 2 tas pinggang yang melilit di lehernya. Dan agak sedikit sulit membukanya karena terlilit dengan rambut gondrongnya dan juga si bapak agak kaku badannya.

"Coba itu di usap ubun-ubunnya sama mukanya di usap air," kata salah satu pendaki rombongan Bekasi yang melewati kita yang sedang panik. "Si bapak istirahat di situ tadi gak permisi soalnya," lanjut dia.

Memang di di sebelah kanan ada pohon besar juga dan membuat kondisi semakin mencekam. Ditambah lagi setelah lihat jam ternyata menjelang waktu Dzuhur dimana waktu tengah hari ini memang rawan terjadi sesuatu yang seperti ini.

Beruntung si bapak mulai pulih setelah 2 tas pinggang yang melilit di lehernya berhasil saya dan mas Rona lepas. Lalu disuruh minum dan cuci muka sama ubun-ubunnya 3 kali. Melihat sudah agak baikan, teman si bapak ini meminta izin ke kita untuk mengejar temannya di depan nanti buat ngabarin sekaligus membackup.

"Pak, gak apa-apa?" tanya mas Rona memastikan bahwa udah baikan.

"Gak apa-apa," jawab si bapak yang dipanggil Abah oleh teman-temannya ini.

Dalam hati wah bener nih tadi ketempelan nih si Abah, beruntung gak sampe ngamuk-ngamuk parah. Saya pun tak sengaja memegang kayu tempat si bapak bersender dan tiba-tiba tangan saya terasa panas seperti ada tangan yang memegang gitu tapi panas. Dan langsung saya lepas pegangan saya dari kayu tersebut. Dan mengajak si Abah buat pindah lokasi untuk duduk istirahat sejenak.

Lalu setelah agak mendingan dan sadar seutuhnya si Abah pun bercerita kalau tadi dia tuh capek lalu istirahat di situ dan rasanya ngantuk banget namun karena lapar dia buka snack coklat dan baru satu suap. Tiba-tiba dia tertidur tanpa sadar dan bagun-bangun pas kita ngelepas tas pinggang dari lehernya dan ngasih air minum.

"Kayanya saya kesedak tadi karena makan coklat," aku si Abah. Tapi tetap saja kalau cuma kesedak mah gak separah itu ditambah lagi memang hawa di situ sangat beda banget. Beruntung si Abah gak parah ketempelannya dan masih bisa sadar.

Saya sarankan untuk istirahat dulu dan perutnya diisi dulu karena kemungkinan karena lelah, dingin dan kurangnya asupan makanan alias laperpedia. Si Abah pun langsung membongkar isi kerilnya dan mengeluarkan 1 box tuperware gede yang isinya kurmas sama anggur. Tapi salahnya ditaruh di paling atas kerilnya padahal berat itu ada sekiatar 2-3 kg an itu.

Sambil menunggu temannya turun dari atas kita pun berbincang dengan si Abah sambil menikmati kurma dan anggur yang begitu menyegarkan dan jadi tambahan energi. Apalagi kurmanya yang manis banget tentu saja buat tenaga kembali full.

Si Abah memang pendaki sepuh banget nih ternyata, sampai menunjukkan kausnya pendaki nafas tua dan sering mendaki gunung bersama teman-temannya namun jarang sampai puncak. Karena memang usianya sudah hampir mencapai kepala 7 loh. Namun jiwanya tetap muda meskipun rambut memutih dan juga kulit tak lagi kencang.

Si Abah sempat menyuruh saya dan mas Rona untuk lanjut aja duluan karena dia bilang udah baikan. Namun tentu saja saya dan mas Rona tak akan meninggalkan si Abah sendirian sebelum temannya sampai turun. Ditambh lagi muka si Abah masih pucat pasi dan belum kembali sepeti semula. Saya ajak  aja si Abah buat ngobrol pengalamannya mendaki gunung agar pikirannya tak kosong sambil menemaninya melumat kurma dan anggur. Setelah dua teman rombongannya si Abah sampai kembali untuk menjemput dan backup si Abah. Saya dan mas Rona pun pamit buat melanjutkan pendakian.

Sebenarnya kita agak sedikit khawatir sama keadaan si Abah setelah kita melanjutkan perjalanan. Namun akhirnya kita berpapasan di pos bayangan sebelum pos 2 dimana kita sedang makan siang mengisi energi. Dan nampak si abah sudah baikan dan berjalan tanpa dipapah lagi dan mukanya gak sepucat pas di bawah tadi.

Di pos 2 kita papasan lagi dan kali ini si Abah sudah aman dan mukanya gak pucak lagi sudah normal kembali. Si Abah sedang beristirahat di pos 2 bersama rombongannya serta rombongan lainnya. Kita pun tak lama berada di pos 2 ini dan langsung melanjutkan perjalanan karena sudah lama banget istirahat di pos bayangan di bawah pos 2.

Kita pun sampai di Pos 3 sekitar jam 3 sore dan tak lama istirahat tiba-tiba kabut mulai turun dan air mulai berjatuhan dari langit bersamaan kabut yang semakin tebal. Akhirnya kita pun memecah 2 kelompok saya dan Mas Rona jalan duluan ke Pos 4 untuk nyari spot camp sementara Mba Ani dan Mas Catur menyusul karena mas Catur kelelahan dan perlu istirahat lebih lama.

Baru saja berjalan beberapa menit gerimis semakin deras dan memaksa saya dan mas Rona mengeluarkan jas hujan untuk melawan air-air yang berjatuhan agar tak langsung membasahi badan agar tak menghambat perjalanan agar cepat sampai di pos 4 dan istirahat di tenda.

Ditengah perjalanan menuju pos 4 kita menemukan sebuah kaos putih yang penuh dengan darah yang sudah mengering di pinggir jalur. Saya menduga itu kaos dari petugas basecamp yang terluka saat memotong pohon dengan gergaji mesin untuk pembuatan mushala dan fasilitas di pos 4. Hal ini karena didekatnya ada bekas pohon tumbang yang dipotong dengan gergaji mesin. Tak ambil pusing kita berdua langsung melanjutkan perjalanan karena gerimis mulai menderas.

Sekitar jam 4 an kita sampai di pos 4 dan langsung mencari spot enak untuk mendirikan 2 tenda agar saling berhadapan dan nyaman pas masak serta istirahatnya. Setelah mencari-cari akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan tenda di tanah lapang sebelum pos 4 yang jadi spot camp utama. Hal ini kita ambil biar gak terlalu ramai saat malam hari karena biasanya rame banget pas malam apalagi kalau rombongan lain masih begadang tuh pasti berisik dan susah tidur.

Tak lama setelah bongkar keril dan mulai pasang tenda tenyata Mba Ani dan Mas Catur akhirnya sampai juga dan kita segera mendirikan tenda dan tentu saja setelah melepas lelah dan ganti pakaian mba Ani langsung mengambil alih peralatan memasak dan juga logistik untuk meracik masakan dengan cita rasanya yang maknyus.

Saya pun izin buat nyobain toilet baru dan mushala baru di Pos 4 jalur Permadi Guci yang sempat viral di media sosial. Soalnya dahulu pas pendakian pertama belum ada mushala dan toilet. Dulu adanya cuma toilet alakadarnya cuma dari kayu dan dikelilingin sama karung untuk penutupnya serta kolam pancuran (yang jadi tempat camp kita namun gak ada airnya lagi alias kering serta di sampingnya ada spot untuk 3 tenda ukuran 2P).

Gelap pun mulai menggantikan terang dan bintang-bintang di langit mulai terlihat berkerlap kerlip. Sambil ditemani udara dingin kita pun menyantap makan malam dari chef andalan mba Ani. DImana kali ini menunya adalah nasi + sayur sop sosis potong ditambah tempe goreng serta sambal yang beli pas di warung dekat basecamp. Oya lupa satu lagi abon sapi maknyus yang di bawa mba Ani dari Jogja melengkapi makan malam kita.

Tentu saja sambil berkcengrama dengan hangat dan merencanakan kegiatan untuk besok pagi. Dan jelas saja besok pagi adalah waktunya summit attack. Namun karena mas Catur gak kuat sehingga ia memutuskan besok gak ikut summit attack. Lalu disusul mba Ani yang juga gak ikut summit attack karena udah pernah pas pendakian pertama via Jalur Permadi Guci ini (yang saya gagal summit).

Sementara mas Rona masih gak tau, "Kalau saya bangun ya gas summitnya, kalau gak bangu ya gak summit."

Kata mba Ani sih bakalan susah klau bangunin mas Rona jadi ya liat aja besok coba bangunin. Sampai titik ini saya ragu sih masa iya dua kali lewat Permadi Guci cuma sampai pos 4 aja. Akhirnya saya teringat sama anak-anak rombongan Bandung yang ngajakin summit bareng pas shalat Asar di mushala.

"Yah kalau gitu saya sendirian donk yang summit, ya udah gak apa-apa biar nanti saya summitnya bareng nak Bandung, tadi ngajakin summit bareng pas Asar."

Beres makan dan diskusi sekitar jam 9 malam kita semua siap-siap bobo. Saya satu tenda dengan mas Rona sementara mba Ani satu tenda dengan mas Catur karena kita bawa 2 tenda masing-masing isi 2P. Baru saja terlelap tiba-tiba dari jalur pendakian terdengar teriakan pendaki lain.

"Mba Ani.... Mba Aniii... Mba Aniii..." teriak pendaki.

Saya yang masih terjaga sedikit kaget takutnya ada apa-apa di luar sana dan segera bergegas membuka tenda. Tapi dari tenda sebelah mba Ani menyaut, "Iya saya disini, Anak PI bukan?"

"Iya mba," sahut pendaki tersebut dan ternyata ada 2 orang dan tampaknya baru sampai karena mereka track malam dan hanya berdua saja.

Mba Ani pun keluar tenda dan mengobrol bersama mereka dan ternyata memang satu organisasi pendakian sama-sama anak PI. Namanya bang Eko sama Kang Erik dari Cirebon dan Bandung dimana mereka dikasih tahu pak Burhan di Basecamp kalau mba Ani juga mendaki dan udah jalan duluan.

Mereka pun ngobrol lumayan lama namun karena saya ngantuk dan nyiapin tenga buat summit akhirnya memilih tidur. Baru juga memejamkan mata mba Ani manggil-manggil, "Di, besok summitnya bareng mereka berdua aja. Mereka mau summit katanya besok."

"Iya mba siap."

"Oya itu sayur sisa mau dimakan atau nggak? Kalau nggak buat mereka aja ya," lanjut mba Ani.

"Ambil aja mba itu di dekat kompor, saya tidur duluan ya ngantuk nih," sambil kembali mengatur posisi tidur.

Jam 1 malam saya terbangun namun masih mager mau keluar atau sekadar buat air hangat untuk persiapan summit attack. Akhirnya karena perjanjian bakalan summit bareng jam 4 jadi ya udah saya coba tidur lagi deh. Namun mata malah tetap terjaga dan susah tidur lagi alhasil akhirnya malah kebelet ke belakang. Dan malam-malam jam setengah 2 saya keluar tenda dan menuju toilet sendirian. Namun sempet kaget juga kenapa ini temannya mba Ani bikin tenda kok ngehalangin jalan gini. Jadi kalau mau keluar harus melewati bekas kolam air mancur yang sudah kering.

Pas sampai di camp area utama pos 4 ternyata sudah rame banget pada persiapan untuk summit attack. Karena memang disarankan untuk mulai summit attack paling lambat jam 3 dini hari jika ingin mendapatkan pemandangan sunrise di puncak Gunung Slamet via jalur Permadi Guci ini.

Setelah kembali ke tenda malah masih gak bisa tidur alhasil langsung membuat coklat hangat 2 gelas karena sudah jam 3 pagi. Sekalian makan nasi sisa yang saya kira diambil sama bang Eko dan kang Erik semalem. Ternyata mereka hanya mengambil sayur sopnya aja tapi nasinya gak diambil juga. Ya udah sikat aja sama abon sapi dan sambal yang dingin-dingin diaduk. Walaupun dingin tapi tetap maknyus. Soalnya lagi laper banget deh ditambah dengan coklat anget mantul banget deh.

Saya coba bangunin mas Rona yang katanya susah di bangunin. Dan ternyata emang susah banget udah bilang iya summit eh malah lanjut molornya, hadeh. Udah berkali-kali di bangunin di gangguin tidurnya tapi tetap aja gak bangun-bangun. Padahal udah bikin coklat anget 2 gelas nih sengaja satunya buat mas Rona tapi sampai si coklat kembali dingin masih lanjut juga ini mimpinya mas Rona.

Jam 4 kurang 15 menit masih gak bangun juga baik Mas Rona maupun dua orang teman Mba Ani. Membuat saya berfikir ya udah deh gak jadi summit lagi ini mah, mana rombongan Bandung udah berangkat duluan karena ngajakin jam 3 malam jalannya. Akhirnya satu gelas coklat yang udah mulai dingin pun saya minum lagi dan setelahnya berniat buat hibernasi dan masuk kembali ke dalam SB.

Belum habis si coklat dingin tiba-tiba terdengar bunyi resleting tenda di buka dan arah suaranya dari tenda temannya mba Ani. Saya senterin kearah pintu tendanya tapi gak ada orang yang buka resletingnya. Bahkan saya panggil, "Mas udah bangun? Summit yuk udah mau jam 4 nih." Tapi tak ada jawaban dari tenda tersebut.

Saya tungguin cukup lama tapi gak ada yang keluar dari tenda maupun suara dari dalam tendanya yang menandakan keduanya telah bangun. Namun tepat jam 4.00 pagi tiba-tiba ada suara rame dari dalam tenda tersebut. Dan kali ini kedua teman Mba Ani tersebut sudah bangun dan tampak tergesa-gesa.

"Mas jam berapa? Jadi ikutan summit gak?" tanya salah satu dari mereka yang masih di dalam tenda.

"Udah jam 4 pas nih, Udah siap nih saya tinggal gas aja,"

"Masnya mau ngejar sunrise atau yang penting sampai puncak? Soalnya kalau ngejar sunrise udah kesiangan kita tapi kalau yang penting sampai puncak mah hayu kita gas," tanya Bang Eko yang tampak lagi ribut beres-beres buat persiapan summit.

"Hayu yang penting sampai puncak, gak dapet sunrise gak apa-apa."

"Oke bentar mas kita siap-siap dulu."

Jam 4.15 pagi saya, bang Eko dan kang Erik mulai jalan summit attack ke puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah ini. Bagi saya dan kang Erik ini summit attack pertama untuk jalur Permadi Guci, namu n bagi bang Eko ini kali ke 5 nya summit di jalur Permadi Guci ini.

Seperti biasa selama perjalanan dari pos 4 ke pos 5 kita bercerita tentang pengalaman selama di gunung. Namun selepas subuh tiba-tiba bang Eko bercerita tentang hal-hal yang ia alami barusan di tenda. Katanya semaleman gak bisa tidur karena di dalam tenda terutama di bagian kakinya ada angin muter di dalam tenda.

"Semalem tuh gak bisa tidur, di dalem tenda ada angin muter gitu jadinya dingin," cerita bang Eko.

"Terus baru aja bisa tidur merem eh tiba-tiba saya mimpi ada yang buka tenda kita 2 orang laki cewe, terus dia bilang, 'Woy bangun itu ada anak PI ngajakin summit tuh' seketika gue langsung bangun dan heran karena resleting tenda masih tertutup,"

"Gue bangunin Erik tuh sambil tanya tadi denger gak yang bangunin kita dua orang dan buka tenda, namun Erik gak denger. Fix berarti gue doang yang denger itu di mimpi. Udah gitu dua orang pendaki yang bangunin kita itu mukanya rata dua duanya. Makanya tadi pagi bangun-bangun langsung ribut krusak-krusuk."

"Oh, pantes saya denger ada suara resleting kebuka tapi gak ada suara orang bangun sebelum jam 4 itu. Baru jam 4 tenda kalian rame tuh krusak-krusuk berarti udah bangun," sambung saya.

"Berarti bener yang bangunin gue itu penunggu tempat itu. Soalnya kita camp di tempat VVIP dan dulu ada kolam di sana dan air mancurnya loh," kata bang Eko.

Lalu bang Eko pun bercerita tentang beberapa pengalaman mistisnya selama mendaki gunung, mulai dari mendaki sampai seharin dan sampai kemalaman tapi gak sampe-sampe di gunung Sindoro, hingga pengalaman mistisnya di gunung Ciremai dan Gunung Prau via Wates.

Saya pun ikutan bercerita tentang pengalaman kemalaman di Gunung Ciremai hingga yang baru beberapa minggu lalu di Sindoro dimana saat waktu menjelang maghrib saya mendengar suara seperti batu jatuh menggerinding di dekat jalur pendakian namun gak ada apa-apa yang jatuh. Dan saat itu saya sedang memotret sunset di pos 3 agak keatas sedikit di gunung Sindoro via Ndoroarum. Dan itu berhasil membuat saya agak bergidik dan langsung kembali ke tenda.

Akhirnya setelah berjalan sekitar 2 jam an sampai juga di batas vegetasi atau Pos 5.1 (karena ada pos 5.2 yang ada tulisan papan Pos 5 Watu Ireng nya agak naik keatas sedikit). Lalu bang Eko melakukan Adzan di Palawangan dimana hal ini memang sudah menjadi tradisi warga Guci jika mendaki gunung Slamet dan sampai di Palawangan maka hal pertama yang dilakukan adalah Adzan.

Memang kearifan lokal ini sangat membantu pagi para pendaki dan warga Guci sejak zaman dahulu. Bahkan pak Burhan, ketua basecamp Permadi pernah bercerita bahwa kalau misal sampai palawangan itu kita harus adzan dulu sebelum lanjut kepuncak. Dimana manfaatnya jika kabut tebal maka disarankan untuk adzan di 4 penjuru mata angin. Insyaallah tak lama kabut bakalan terbuka dan cerah. Makanya orang Guci selalu melestarikan kearifan lokal ini salah satunya yaitu mengumandangkan adzan ketika sampai di Palawangan atau batas vegetasi. Dan itu dilakukan sejak zaman dahulu kala.

Setelah melewati jalur yang lumayan menguras tenaga ditambah matahari yang memanas. Akhirnya jam 11 siang kita sampai di titik tertinggi Gunung Slamet yakni puncak Pahlawan/Puncak Surono. Sejenak beristirahat dan foto-foto serta membuat kopi. Sekitar tengah hari kita turun lagi. Namun bang Eko diminta bang Demit yang ketemu pas di jalur summit buat jadi sweper di puncak. Dan tentu saja yang namanya sweper pasti turunnya terakhiran.

Bang Eko pun menyuruh saya dan kang Erik buat turun duluan nanti di susul katanya. Usai bilang seperti itu saya merasakan deJavu di puncak Slamet ini ketika melihat ada pendaki lain yang pegang papan nama puncak berfoto. Kejadian tersebut seperti pernah saya alami sebelumnya entah di mimpi atau di mana.

Usai menghabiskan kopi akhirnya saya dan kang Erik turun duluan, sementara bang Eko masih nungguin rombongan Karawang foto-foto di puncak sebelum akhirnya merekapun turun. Dibawah teriknya matahari yang tepat diatas ubun-ubun, saya dan kang Erik pun perlahan mulai menelusuri trek turun dan sesekali berhenti untuk mengatur nafas ditengah kondisi panas.

Jika pas naik tadi seru banget ketika berpegangan dengan tali webbing yang dipasang pihak pengelola. Namun pas turun tangan ini rasanya panas karena harus menahan tubuh yang meluncur dan berpegangan dengan tali webbing. Makanya harus banget pake sarung tangan yang kokoh ya karena gesekannya mampu membuat sarung tangan saya aja terkelupas namun masih aman sih.

Lalu diakhir trek tali webbing kita bertemu dengan salah satu pendaki dari Karawang yang sedang duduk di pinggir trek dan nampak kelelahan. Pas kang Erik tanya ternyata dia kecapean dan kehabisan air ditambah lagi kakinya sedikit bermasalah. Akhirnya kita bagi air dan coba untuk bantu memijat urat betisnya yang bermasalah.

Ia pun memilih istirahat dulu dan minta tolong kepada kita untuk bilang ke rombongannya di camp pos 4 biar tidak ditinggalin turun. Akhirnya setelah bang Eko mulai turun dari puncak bersama pendaki dari Karawang. Kita sepakat bahwa saya dan Kang Erik turun duluan untuk ngabarin temannya dan juga ranger. Sementara bang Eko menemani si pendaki cidera ini sekalian menyelesaikan tugas yang diminta Bang Demit untuk jadi sweeper summit hari ini.

Saat turun sampai di Palawangan tepatnya pos 5 Watu Ireng kita bertemu dengan bang Demit dan mengabarkan perihal pendaki yang cidera tersebut. Dengan santainya bang Demit berkata, "Aman kok, gak apa-apa di tinggal aja nanti juga dia turun. Apalagi ada Eko disana."

"Padahal tadi udah dibilangin mending balik lagi aja bareng teman-temannya. Tapi tuh bocah ngeyel tetep mau sampe puncak ya udah biarin aja," sambil tetap mantau para pendaki yang turun summit.

Kita pun istirahat sejenak di pos 5 sebentar sebelum lanjut turun karena waktu sudah menunjukkan jam 14.45 alias hampir jam 3. Jadi dari puncak ke palawangan molor lama banget bisa sampe hampir 3 jam karena nemenin pendaki yang cidera terlebih dahulu.

Dengan air yang habis dan juga tenaga yang sudah menipis saya dan kang Erik kembali melanjutkan perjalanan turun dan kini medannya agak sedikit enak karena sudah masuk hutan. Baru berjalan sekitar 15 menit kita bertemu dengan ranger basecamp yang bawa Air dan Logistik untuk swiping pendaki yang turun summit. Kita pun minta air untuk bekal turun termasuk para pendaki lainnya karena memang hampir semuanya kehabisan air selama turun summit.

Akhirnya kita sampai di camp area Pos 4 sekitar jam 4 sore dengan 3 kali istirahat karena kang Erik merasa gendongan tas nya gak enak ditambah lagi tenaga sudah habis dan dari pagi cuma makan mie kremes aja sama roti dan biskuit. Ya intinya kurang asupan logistik dan gak makan nasi dulu. Apalagi perjalanan sampai makan waktu dari jam 4 pagi sampai jam 4 sore yang tentu saja itu sudah melewati jam sarapan dan makan siang normal kita.

Setelah sampai pos 4 langsung kita cari temannya si pendaki yang cidera tersebut dan minta untuk tidak meninggalkan dia turun. Padahal mereka sedang sibuk packing di dalam tenda dan ada beberapa yang sedang bikin makanan. Setelah itu kita langsung menuju tenda dan pas datang langsung di sambut sama mba Ani, Mas Rona dan Mas Catur yang sedang duduk santai sambil berkengkrama di depan tenda. Dan tentu saja sajian makan siang dari chef andalan kami, mba Ani sudah siap untuk di santap dan berjejer di depan tenda. Kerennya mereka bertiga nungguin kita datang dulu baru mulai makan siang bareng-bareng untuk tenaga turun gunung. 

"Kok, lama banget turunnya? Biasnaya jam 1 palign telat ya jam 2 udah sampai pos4 lagi?" tanya mba Ani yang memang sudah pernah summit attack sehingga tahu estimasi waktunya.

"Tadi tuh ada pendaki yang cidera jadi kita nemenin dulu. Lalu sekarang bang Eko masih diatas sana nemenin. Dan kita turun duluan soalnya harus ngabarin temennya si pendaki biar gak ditinggalin turun ke basecamp."

Kita pun istirahat sejenak sekaligus melepas lelah dan dahaga sembari memulihkn tenaga. Saya pun masuk ke dalam tenda untuk menaruh tas kamera dan mencari cemilan yang tersisa di dalam tenda. Namun dari luar mas Rona manggil.

"Mas, itu di cariin temannya sini keluar."

Dengan penasaran saya pun keluar tenda sambil terheran-heran dan dalam hati bergumam perasaan gak ada temen saya yang naik bareng deh kecuali rombongan ini. "Mana?"

"Itu diatas lagi duduk," kata mas Rona sambil menunjuk dua ekor monyet yang sedang asyik duduk anteng diatas pohon di sebrang tenda kita.

"Aseeeem kirain orang,"

Namun dalam hati saya langsung teringat kembali pada dua pendakian saya sebelumnya dimana bertemu dengan monyet yang anteng duduk diatas pohon sambil memperhatikan kita. Dan tentu sesuai pengalaman saya bertemu dengan monyet yang seperti itu, otomatis di dekat situ ada makhluk lain yang tak kasat mata entah itu di dekat kita atau tak jauh dari kita.

Soalnya pas di Gunung Gede juga seperti itu dan nyatanya temen saya yang indigo melihat tante putih sedang duduk manis di pinggir jalur. Dan tentu saja di atas pohon ada dua monyet yang sedang duduk anteng memperhatikan kita di jalur pendakian.

Lalu kejadian kedua saat pendakian gunung Slamet via jalur Bambangan tepatnya sebelum masuk pos 4 Samaranthu kita juga bertemu dengan kawanan monyet yang sedang duduk anteng diatas pohon. Dan seketika hawa di sana begitu mencekam dan bawaannya pengen cepet-cepet jalan dan ninggalin daerah situ. Tahu sendiri kan pos 4 Samaranthu jalur bambangan itu bagaimana terkenalnya tempat paling mistis. Sesuai namanya Samaranthu yang artinya hantu yang samar-samar.

Dan kali ini ketemu sama monyet yang seperti itu lagi di dekat tempat cam kita lagi. Dan kayanya ini pertanda ada sesuatu entah itu di dekat kita yang tak kita sadari dan tidak bisa kita lihat dengan kasat mata. Untungnya yang lain gak sadar dengan tanda-tanda ini sehingga tak terjadi kepanikan dan memang hanya saya yang tau.

Akhirnya kita makan duluan, karena bang Eko kemungkinan bakalan telat banget turunnya karena membackup pendaki yang cidera. Dan benar saja menjelang jam 5 sore, bang Eko baru sampai tenda dengan lari-lari disertai lelah, lapar dan haus.

"Tadi tuh diatas parah, ada cewe yang rombongan Karawang terakhir itu kesurupan di trek summit, jadi ya nolongin itu dulu makanya lama," cerita Bang Eko yang kali ini sibuk menghabiskan porsi sarapan dan makan siang yang dirapel jadi satu. Sementra kita yang sudah duluan makan mulai bongkar tenda dan packing serta persiapan untuk turun.

"Untung gak parah tuh jadi bisa diamanin dan langsung di evakuasi ke pos 5 sama teman-temannya," lanjutnya.

"Kalau pendaki yang cidera gimana bang?"

"Udah aman bisa jalan dikit-dikit dipapah, Terakhir sih di pos 5 dan udah ketemu temennya yang nyusul keatas jadi gue tinggal di sana."

Saat akan packing perlengkapan makan dan nesting, ternyata masih ada sayur sop yang tersisa dan tak dimakan sama bang Eko. Dengan inisiatifnya bang Eko mengambil pisau panjang dan mau mengubur sisa makanan kita. Karena takurnya si monyet yang sedari tadi duduk anteng di atas pohon malah turun dan mengambil sisa makanan tersebut jika di buang begitu saja. Tentu itu bisa membuat prilaku penunggu gunung ini berubah dan nantinya ketergantungan dengan pendaki yang ujung-ujungnya kalau udah nyaman bisa jadi begal gunung, kaya di Gunug Rinjani.

Namun baru mulai menggali dengan pisaunya, bang Eko malah berhenti dan pindah posisi menggalinya sambil bilang, "Kita kubur aja biar buat penunggu disini sisa makanannya."

Setelah selesai semua kita pun bersiap untuk turun dan waktu menunjukkan jam setengah 6 sore alias mendekati waktu Maghrib. Dan tentunya sebelum itu kita foto bersama terlebih dahulu untuk kenang-kenangan sebelum mulai melangkah turun.

Tak ada keanehan memang setelah kita mengubur sisa makanan dan packing serta siap-siap turun. Namun perasaan saya sedikit agak terganggu dan gak enak selama mulai perjalanan turun dari pos 4 ke pos 3. Ditambah lagi kondisi saat itu kabut tipis menyelimuti setiap jengkal jalur pendakian dan langit mulai menggelap.

Sampai di pos 3 kita istirahat sejenak karena waktu menunjukkan hampir pukul 6 atau maghrib. Bang Eko pun sempat bertanya "Mau lanjut dan istirahat di tengah jalur saat Maghrib atau nungguin di pos 3 hingga adzan maghrib selesai?" Kita pun sepakat untuk menunggu Maghrib di pos 3 ketimbang harus istirahat di tengah alur pendakian saat adzan maghrib.

Memang waktu Maghrib atau peralihan hari ini sangat beresiko karena merupakan waktunya para setan untuk keluar dan kata pak ustad waktunya setan berpesta. Sehingga sebenarnya saat waktu Maghrib harusnya manusia istirahat sejenak apalagi saat perjalanan. Ditambah lagi saya teringan pesan Pak Burhan ketua Basecamp Permadi Guci saat briefing dulu di pendakian saya yang pertama kali ke Slamet via jalur Permadi Guci ini. Bahwa diusahakan jangan sampai trek malam karena berbahaya. Ya memang jalur permadi ini ada di pinggir jurang yang jadi aliran sungai sehingga sangat beresiko jika melakukan trek malam apalagi disaat kondisi hujan dan kabut.

Bahkan saat istirahat di pos 3 pun rasanya begitu mencekam apalagi di bagian pohon besar dekat pos 3. Seolah ada banyak pasang mata yang melihat kita dari dari atas ranting-ranting pohon tersebut. Tapi mungkin itu hanya perasaan saya saja dan belum tentu yang lain merasakannya juga.

Setelah istirahat dan adzan maghrib telah berkumandang, kita melanjutkan perjalanan turun dan kali ini langit sudah semakin gelap. Kita pun mempersiapkan headlamp dimana dalam perjalanan turun ini posisi kita yakni Mba Ani di depan dengan penerangan flash HP, lalu Kang Erik dengan headlamp, Bang Eko tanpa penerangan, Saya dengan headlam kecil, Mas Catur dan terakhir Mas Rona sebagai sweeper dengan masing-masing headlamp terang.

Selama perjalanan turun kita terus berjalan dan fokus ke depan agar segera tiba di basecamp. Kondisi setelah maghrib itu memang sedikit mencekam terutama di beberapa titik. Dalam hati saya berusaha tetap terus menyambung doa-doa dan juga dzikir agar perasan semakin tenang.

Bahkan berusaha tetap fokus melihat ke bawah dan juga menerangi jalan bang Eko yang tak memiliki penerangan sama sekali. Kita terus berjalan lumayan cepat dan tetap memperhatikan langkah karena tek dari pos 3 ke pos 2 bahkan pos 1 ini menurun. Sehingga harus hati-hati dalam memilih pijakan agar tak terpeleset. Bang Eko yang tanpa penerangn beberapa kali hampir terjatuh karena terpeleset dan spatunya nyangkut di akar pohon.

Semuanya hening tanpa suara dan hanya sesekali bang Eko yang menggoda kang Erik untuk memecah suasana. Saya sendiri memang sibuk terus merafal doa-doa dan dzikir sebisa saya sambil memikirkan tumben sekali perjalanan turun kali ini cepat banget padahal Mba Ani yang di depan. Padahal pas turun dari Sindoro mba Ani sampai nyerah karena spatunya kurang pas karena emang baru pertama kali dipake. Sehingga membuat jari-jari kakinya kesakitan. Memang aneh sih kok bisa ya padahal kan mba Ani memakai sepatu yang sama yang dipakai saat ke Sindoro dan baru 3 hari sebelum mendaki ke Slamet.

Selain itu saya juga memikirkan kondisi Mas Catur yang memang baru kembali mendaki setelah vakum 1 tahunan dan saat mendaki memang masih kaku otot-otot kakinya. Sehingga pendakian pun sedikit pelan. Namun kini perjalanan turun ini kecepatan kami lumayan cepat sehingga sesekali saya harus melihat ke belakang untuk memastikan Mas Catur bisa mengikuti ritme perjalanan cepat ini.

Tiba-tiba di depan bang Eko meminggirkan kayu ranting pohon yang patah di sebelah kiri jalur karena sedikit menghalangi. Namun ranting kayu tersebut malah kembali jatuh ke jalur dan saat saya mau menahannya namun tak bisa karena kita berjalan lumayan cepat dan hanya berteriak "Awas kayu."

Namun ternyata mas Catur dan mas Rona yang berada di belakang malah terkena menabrak kayu tersebut. Dimana mas Rona hampir terkena mukanya namun bisa menahan dengan tanganya. Sementara mas Catur juga sama berhasil menahan ranting tersebut dengan kedua tangannya dan mengembalikannya ke pinggir agar tak menutupi jalur.

Namun saat melanjutkan perjalanan tiba-tiba dari belakang saya terdengar bunyi "Bruk..." Dan otomatis kita langsung melihat ke belakang dan ternyata mas Catur dalam kondisi terjatuh di pinggir jalur karena tiba-tiba kakinya terpeleset.

Setelah di tolong mas Rona dan kita pastikan kondisi mas Catur aman. Kita pun melanjutkan perjalanan turun sambil terus waspada dan hati-hati dalam mengambil pijakan. Apalagi di tengah kondisi malam yang lumayan mencekam ini. Saya pun hampir 2 kali kepala ini terbentur sesuatu diatas seperti kayu yang melintang. Namu anehnya padahal kang Erik memiliki tinggi yang hampir sama dengan saya, namun dia aman dan tak terbentur kepalanya.

Semakin turun dan pas jalur di pinggir jurang saat saya sedang fokus melihat jalur ke bawah. Tiba-tiba dari sebelah kanan saya tepannya di pinggir jalur yang dibawahnya jurang saya sekilah melihat sebuah bayangan putih agak besar seperti baju yang digantung namun tak ada kepalanya diam berdiri di pinggir jalur tanpa ngapa-ngapain. Agak sedikit kaget juga sih namun dalam hati saya terus membaca doa-doa dan berfikir tetap tenang dan terus fokus melihat ke depan. Pokoknya harus turun sampai Basecamp dengan selamat. Ternyata tak hanya saya saja yang menyadari bayangan putih tersebut, bang Eko pun menyadarinya.

Setelah bayangan putih di sebelah kanan yang sangat dekat tersebut berlalu dan kamu tetap melakukan perjalanan tanpa henti. Kali ini setelah mendekati pos 2 saya rasakan ada bayang putih yang sama dari sebelah kanan jalur namun jaraknya agak jauh di dekat pohon-pohon. Namun jumlahnya ada lebih dari satu dan sepertinya mereka tak mengganggu.

Doa-doa dan dzikir pun terus menerus saya lakukan di dalam hati ditengah malam yang mencekam ini. Hingga akhirnya kita sampai di pos 2 pada jam 18.45 dan bertemu rombongan pendaki lain yang sedang beristirahat di pos 2. Setelah mengecek kondisi semua rombongan aman dan mau lanjut atau istirahat. Kita putuskan untuk lanjut karena pertimbangan bahwa pos 2 ini sangat berbahaya jika menjadi tempat camp dan memang pihak basecamp permadi juga melarang para pendaki untuk ngecamp di pos ini. Akhirnya kita pun lanjut turun dan nanti kalau capek istirahat di jalur pendakian antara pos 2 dan pos 1.

Kondisi malamnya masih mencekam namun tak semencekam seperti perjalanan dari pos 3 ke pos 2 yang saya rasa lumayan mencekam. Atau mungkin karena malam sudah mulai karena waktu menunjukkan jam 7 malam dimana waktu maghrib sudah lewat. Meski begitu jalur mais menurun dan bahkan lebih sedikit curam dibandingkan dengan jalur dari pos 3 ke pos 2. Membuat kita beberapa kali harus istirahat di pengah perjalanan.

Untungnya selama pos 2 ke pos 1 tak ada bayangan putih dan tak ada kejadian aneh yang terjadi. Namun kali ini justru keanehan hanya terjadi pada kang Erik yang terus mengeluh kalau tas kerilnya gak enak banget backsystemnya. Sampe nyebut-nyebut nama merk tasnya segala dan ngeluh terus pokoknya.

Padahal dari sejak turun tak ada tuh kang Erik ngeluh dan bahkan jarang banget ngobrol atau bersuara alias senyap. Namun selama perjalanan dari pos 2 ke pos 1 itu kang Erik banyak ngeluhnya terutama di strap keril yang katanya gak enak banget. Entah kenapa, namun terkaan saya karena kang Erik kelelahan dan selama perjalanan turun sering dibecandai sama bang Eko.

Akhirnya sekitar jam 8 malam sampai juga di pos 1 dan disambut oleh para tukang ojek dengan motornya yang siap mengantar turun dengan barter uang jasa ojek. Beberapa kelompok pendaki pun sedang beristirahat di area landai pos 1 ini, ya bisa dibilang udah rame banget kaya pasar lah. Ditambah lagi kita ber 6 yang baru datang jadi makin rame.

Istirahat di pos 1 ini lumayan lama sekitar setengah jam sampe kang Erik tertidur sebentar untuk melepas lelah dan rasa sakit di punggungnya yang selama turun dikeluhkannya karena strap dan backsystem keril yang ia bawa (bukan merk yang ia suka/cocok).

Setelah istirahat kita lanjut turun dan kali ini bareng bersama dengan kelompok lain dimana kita berada di belakang kelompok tersebut. Kali ini saya bertukar posisi dengan bang Eko dimana saya tepat di belakang kang Erik.

Awal perjalanan biasa saja hingga sampai di area pembukaan hutan untuk ladang tiba-tiba saya mendengar suara "Gdebuk..." dari sebelah kiri bawah. Namun saya berfikir itu hanya kayu atau apa yang jatuh gitu, atau ada sesuatu di belakang yang jatuh. Lalu tak lama saya merasakan keril saya kok terasa semakin berat ke kanan. Padahal pas tulurn dari pos 1 masih aman dan pas rasanya.

Karena penasaran saya coba meraba sisi kiri keril dan ternyata Aqua besar di pinggir kiri hilang entah kemana. Dan kemungkinan suara gedebuk tadi di pinggir jalan ternyata aqua besar berisi air yang tiba-tiba jatuh. Namun herannya padahal sudah dikencengin pake strap dan pake rain cover juga tasnya, kok bisa tiba-tiba jatuh gitu ya. Ya sudah biarlah mungkin ada yang pengin minum penunggu di pinggir jalurnya.

Saat melihat ke depan malah aneh banget kelakuan kang Erik. Bisa-bisanya dia pake keril sambil dimiringin ke kanan gitu dan katanya sakit banget punggungnya gara-gara kerilnya kurang pas dan gak enak. Sedikit-sedikit dibenerin itu keril, ganti posisi, dibenerin lagi dan bilang gak enak sama sakit punggungnya lagi.

Tapi tiba-tiba, Brukkk....

Ternyata mba Ani yang berada di depan terpeleset dan jatuh tiba-tiba. Udah jatuh gitu malah ketawa seneng. Katanya daripada nangis ya udah mending ketawa pas jatuh biar senang dan lupa sakitnya. Dan Deg! Saya mengalami de Javu yang ke 4 selama pendakian ini setelah melihat mba Ani terjatuh kemudian tertawa. Yang pertama yakni pas perjalanan naik, yang kedua pas di puncak pahlawan, yang ketiga pas makan sebelum turun. Dan ini rekor terbanyak de Javu saya pas pendakian gunung. Biasanya sih cuma sekali bahkan gak de javu sama sekali loh. Dan ini tumben bisa banyak banget sampe 4 kali.

Perjalanan terus berlanjut dan pada satu titik kita sampai di hutan pinus sebelum curug permadi. Disini kita istirahat sejenak karena lumayan badan sudah mulai lelah dan headlamp saya mulai lelah juga jadi gak terang lagi. 

"Rik, lu kenapa?" tanya bang Eko.

"Ini punggung sakit banget karena tasnya gak enak banget."

"Sini mana punggungnya."

Kang Erik pun merubah posisi duduknya dan kini punggungnya tepat berada di depan bang Eko. Tanpa aba-aba dan sepatah kata pun tiba-tiba.  "Plaaaakkkk...." Tangan kanan bang Eko dengan sekuat tenaga menghantam punggung kang Erik yang seketika itupun kesakitan. Kitapun yang menyaksikan itu kaget banget dan langsung bertanya kenapa sampai segitunya mukulnya pake tenaga full power.

"Gimana udah enakan?" tanya bang Eko. "Maaf banget ya, rik tadi gua pukul kenceng banget."

"Ya lumayan enakan dari pada tadi," saut kang Erik dengan sedikit kesal.

"Sebenarnya tadi itu bukan mukul lu, rik. Tapi tadi tuh mukul yang ngikut kamu dari pos 2. Jadi maaf ya, soalnya kalau gak gitu bakalan ngikut sampe bawah." ucap bang Eko dengan rasa bersalah karena pukulan maut full powernya. Namun kang Erik hanya bergeming saja dan mengajak kita lanjut lagi turun.

Dan akhirnya jam sekitar jam setengah 9 sampai di gerbang Permadi Junggle dan kita istirahat di rumah panggung permadi junggle. Baru aja sampe tiba-tiba kembali terdengar suara "Brukkkkk..." kang Erik melempar tas kerilnya ke dekat bangku duduk seperti melepas lelahnya dan bebannya hilang.

Maklum memang kang Erik sudah ketempelan saat berhenti sebentar di pos 2 hingga membuat kerilnya terasa berat dan punggungnya sakit. Makanya selama perjalanan turun dari pos 2 hingga sampai gerbang permadi junggle bang Eko yang memang tau akan hal tersebut berusaha mengajak kang Erik ngobrol agar pikirannya tak kosong dan biar gak masuk yang nempel tersebut.

Kita pun beristirahat di warung yang buka di dekat gerbang Permadi Junggle sambil menikmati teh hangat serta gorengan dan siomay. Lalu disinilah bang Eko menceritakan semuanya kepada kang Erik dan kita semua perihal pukulan maut full powernya hingga kejadian-kejadian selama di atas. Mulai dari sosok putih dipinggir jalur hingga penunggu yang ada di bekas kolam pancuran didekat kita mendirikan tenda. Sampai spot itu dibilang spot VVIP sama bang Eko karena angin gak bakalan menerpa tenda dan sangat tenang.

Pantesan ada monyet yang duduk anteng di atas pohon tepat di seberang tenda kita ternyata emang ada penungunya itu bekas kolam pancuran itu dan ternyata dia duduk di jembatan kayu tempat kita menaruh ts keril saat packing. Jadi semuanya clear dan kang Erik gak marah lagi sama bang Eko karena udah cerita apa yang sebenarnya terjadi.

Dan sampai Basecamp kita sekitar jam setenah 11 malam karena saya dan bang Eko memilih jalan kaki. Sementara Mba Ani, Kang Erik, Mas Catur, dan Mas Rona memilih untuk naik ojek dari gerbang permadi junggle ke basecamp. Dan mereka sampai basecamp jam 10 malam.

Singkat cerita besok paginya baru kita pulang semua dari basecap ke rumah tapi saya harus nganterin mba Ani dulu ke Slawi karena mas Catur dan mas Rona pulang duluan pas malemnya dikarenakan mas Catur ngajar sekolah hari seninnya.

Setelah mengantar mba Ani ke rumah mas Catur saya langsung pulang namun selama perjalanan turun dari Guci hingga pulang ke rumah ini badan bawaanya gak enak dan ngantuk banget. Dan pas malamnya badan tiba-tiba panas dan bawannya ngantuk banget sampe diselimut pake SB padahal biasanya kalu malam malah agak panas disini gak sedingin di guci.

Mungkin karena kelelahan aja sih ini atau memang gara-gara mandi pagi di basecamp terus langsung turun ke Slawi yang puanasnya poooolll. Yang pasti gak ada yang ikut pulang ke rumah soalnya paginya langsung seger lagi dan aman. Bahkan kaki gak begitu pegal seperti pas awal-awal kecanduan naik gunung.

Kembali lagi mengesampingkan apa yang saya dan teman-teman alami diatas. Jalur pendakian gunung Slamet via Permadi Guci ini sangat rekomended terutama bagi para pemula. Hal ini karena terbilang cukup lengkap fasilitasnya mulai dari adanya ojek sampai pos 1 hingga adanya toilet, sumber air dan mushala di camp area pos 4. Tentu akan sangat membantu buat pemula yang gak biasa BAB menyatu dengan alam di semak-semak.

Namun yang perlu diperhatikan adalam manajemen logistik dan waktu saat summit attack terutama air. Karena bisa dibilang summit attack jalur permadi ini dari palawanagan ke puncak panjang jalurnya loh berbeda dengan jalur bambangan.

Ditambah lagi hanya ada 2 webbing dimana 1 untuk naik dan 1 untuk turun sehingga jika rame maka harus antri dan pasti macet dalam menggunakan webbingnya. Atau kalau mau nekat ya naik tanpa lewat webbing namun harus hati-hati karena batu untuk pegangannya kecil dan juga kemiringan yang lumayan.

Tapi kembali lagi jika sampai di puncak maka kamu akan berada di titik tertinggi dari Jawa Tengah yaitu puncak Pahlawan/Puncak Surono. Selain itu pemandangan selama summit juga begitu indah loh karena bisa lihat lembah dan dataran Guci serta Dataran tinggi kaligua dan bumiayu dari ketinggian yang sangat indah. Lalu lautan awan berada di sisi kiri jalur summit yakni kearah timur yang masuk wilayah Purwokerto.

Pemandangan selama dari gerbang permadi junggle hingga pos 1 pun begitu cantik dan bagus. Makanya kalau mau ngojek ya sampai gerang permadi Junggle aja jangan sampe pos 1 biar bisa menikmati main air di beberapa air terjun yang ada. Pokoknya jalur paket lengkap karena ada susur sungai beberapa kali ditambah lagi ada hutan lumutnya yang masih terjaga. Lalu dalam bocoran dari pak Burhan katanya bakalan ada fasilitas shelter di setiap posnya sehingga pendaki bakalan nyaman untuk istirahat saat pendakian. Dan shelter-shelter ini ditargetkan 2021 akhir sudah jadi pembangaunannya. Dan memang pas kita mendaki di 2 - 3 Oktober 2021 lalu di pos 1 sudah ada progrespembuatan shelter permanennya dari kayu.

Sekian pengalaman cerita saya selama mendaki gunung Slamet via Jalur Permadi Guci ini.

Salam Lestari


JL | Jaenal Jalalludin


Redaksi Jelajah Lagi

Kami mengulas berbagai hal menarik tentang petualangan, pendakian gunung dan traveling serta perlengkapan outdoor untuk menunjang aktifitas alam bebas.

4 Komentar

  1. alhamdulilah belum pernah merasakan kisah mistik dan jangan pernah, serem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir kak
      Semoga kita selalu di jaga dari hal-hal yang tak bisa kita lihat ya kak

      Hapus
  2. Jika ingin mendaki gunung, memang harus bangeeeet untuk siapin stamina dan jaga kelakuan juga kata2 ya mas. Aku serem baca pengalaman mistis nya tadi. Trus baca yg sampe ketempelan di keril segala, bapak2 yg kemasukan , duuuuuh banyaaak sih memang cerita2 begini yg aku baca ttg gunung.

    Ini Bener2 jadi pengingat kalo ke gunung jangan sampe takabur, harus saling jaga satu sama lain dan banyakin doa. Seru bangeeeet baca ceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak selain stamina dan peralatan pendakian. Mental juga perlu disiapkan kalau mau mendaki gunung. Karena mendaki gunung itu kita butuh fisik dan mental yang tangguh dimana kaki akan berjalan lebih jauh dari biasanya dan mulut yang akan terus dijaga dan selalu berdoa lebih lama

      Bener banget tuh kak kalau ke gunung kita harus jaga sopan santun dan jangan sombong apalagi takabur. Ucapan di jaga dan jangan pernah ninggalin doa.

      Oya terima kasih sudah mampir di sini ya kak
      Semoga bermanfaat dan terinspirasi

      Hapus
Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال