Kenalan Sama 6 Penyakit Yang Sering Menyerang Para Pendaki di Gunung - JELAJAH LAGI - Gunung dan Traveling Indonesia



Theme Layout

Theme Translation

Trending Posts Display

Yes

Home Layout Display

Posts Title Display

Yes

READ ON YOUR LANGUAGE

404

We Are Sorry, Page Not Found

Home Page

penyakit gunung yang sering menjangkit perndaki - Foto Instagram @gilang_mf_



Mendaki gunung termasuk dalam olahraga yang menuntut kesiapan fisik yang prima. Hal ini karena medan di gunung memiliki kemiringan dan juga karakteristik yang berbeda. Bahkan jalur summit attack selalu membuat para pendaki harus berjalan pelan dan hati-hati. Oleh karena itu persiapan fisik harus dilakukan sebelum mendaki gunung agar terhindar dari beberapa penyakit yang sering menyerang pendaki diatas gunung.

Selain karena medan yang berat faktor cuaca dan tekanan udara di ketinggian juga ikut andil membuat beberapa pendaki gunung merasakan yang namanya penyakit gunung. Mulai dari penyakit yang ringan hingga penyakit yang mematikan seperti hipotermia yang begitu banyak merenggut nyawa para pendaki.


Oleh karena itu selain persiapan fisik kita juga harus mengetahui apa saja penyakit yang sering menyerang para pendaki ketika diatas gunung. Berikut ini 6 penyakit yang sering dialami pendaki ketika digunung bersama peyebab dan cara penanganannya.


1. Kejang Otot/Kram

Seperti kita tahu dalam pendakian gunung kita akan dituntut untuk berjalan lebih jauh dan berjam-jam dari biasanya sembari membawa beban keril yang berisi logistik, pakaian dan perlengkapan pendakian gunung. Ditambah lagi pendakian gunung ini termasuk dalam olahraga berat yang menuntut kekuatan fisik mental dan perasaan, eh.


Seperti nama kerennya Hiking, maka dalam sebuah pendakian gunung kita akan dituntut untuk menyusuri jalan setapak sambil berjalan ya bukan naik motor (kalau itu mah namanya ngojek). Tentunya berjalannya tak hanya satu jam saja tapi lebih dari satu jam bahkan berjam-jam apalagi kalau ketemu pendaki yang turun dan nanya bang Pos 2 masih jauh gak? Dan mereka bilang udah deket kok palingan 5 menit lagi. Tpi pas dijalani 2 jam baru sampai pos 2 hadeehh. (Kelakuan siapa tuh yang suka bikin hoax 5 menit di gunung hayo ngaku, berarti kita se frekuensi, eh).


Selain jalan kaki berjam-jam dengan beban keril yang segede gaban, kita juga bakalan menemui trek atau jalur pendakian yang bermacam-macam mulai dari coran di kebun warga, trek tanah, trek batu, trek akar, trek lutut ketemu dagu a.k.a miringnya kebangetan, trek pasir tapi gak ada truk gandengan ya yang ada di gunung mah pendaki gandengan terutama pas summit attack, eh.


Tentu saja dengan tantangan seperti itu maka tak jarang para pendaki gunung mengalami kejang/kram otot. Biasa disebabkan karena salah ambil jalur untuk berpijak dan juga kurangnya pemanasan dan latihan fisik sebelum pendakian. Ditambah lagi udara dingin di gunung juga sangat berpengaruh loh dan bisa buat otot kamu tegang dan kram.


Tanda-tanda kamu mengalami Kram ini yaitu disaat kaki kamu mengalami kram tiba-tiba dan otot kaki menjadi keras serta sulit digerakkan. Dan yang pasti bakalan sakit nih dan menghambat pendakian. 


Cara Penanganan Kram

Jika hal tersebut kamu alami saat mendaki gunung maka coba lakukan penanganan berikut ini agar rasa sakitnya berkurang. Coba istirahat sejenak dan tenangkan tubuh dengan melepas keril sejenak, lalu jangan lupa untuk minum dan ngemil atau makan makanan ringan yang banyak mengandung garam. 


Tapi jangan juga mentang-mentang bawa garam banyak terus itu roti tawar kamu kasih garam lalu di makan ya. Gak kebayang itu rasanya kaya pengen nikah atau malah ngebet pengen nikah tuh. Makanan mengandung garam disini misalnya ciki dan kawan-kawannya atau bisa juga makan roti gandum yang kaya kabohidrat dan berfungsi untuk memulihkan tenaga juga.


2. AMS/Penyakit Ketinggian

Jadi penyebab para pendaki mengalami mountain sickness ini adalah karena perbedaan ketinggian dan lingkungan sekitar. Biasanya terjadi karena lamanya tubuh beradaptasi dengan lingkungan baru dan ketinggian baru. Karena semakin tinggi tempat maka tekanan udara juga semakin rendah dan oksigen semakin menipis.


Sehingga jika tak bisa beradaptasi atau bahasa kerennya itu aklimatisasi nya lama terhadap lingkungan baru terutama di gunung. Maka kemungkinan besar akan terjangkit mountain sickness ini. Dimana tanda-tandanya diawali dengan pusing dan mual, lalu sesak nafas, tak nafsu makan hingga yang paling serem jantungnya berdebar-debar. Tapi berdebar-debar bukan karena ketemu dia di alur pendakian ya, eh.


Nah jika kamu atau teman sependakianmu mengalami tanda-tanda diatas maka cobalah istirahat sejenak sambil menunggu tubuh beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Maklum karena semakin tinggi maka asupan oksigen semakin menipis dan bisa berakibat kurangnya asupan oksigen dalam darah. Dan jika ini dipaksakan maka hal berbahaya bisa terjadi mulai dari sakit kepala berlebih bahkan hingga sampai hilang kesadaran loh.


Cara Penanganan AMS/Penyakit Ketinggian

Untuk penanganan penyakit yang satu ini yakni kita harus meningkatkan kecepatan aklimatisasi atau adaptasi tubuh dengan lingkungan dan ketinggian yang baru. Caranya yakni datang lebih awal dan menginap 1 - 2 hari di basecamp pendakian.


Hal ini bisa membuat tubuh kita lebih bugar dan lebih siap serta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan kondisi cuaca di ketinggian. Dan hal ini wajib banget dilakukan terutama untuk para pendaki yang memiliki aklimatisasi lambat atau baru pertama kali mendaki gunung.


Selain itu keuntungan lainnya dengan menginap di basecamp sebelum pendakian adalah tubuh bisa bugar dan lebih siap melakukan pendakian. Karena sudah istirahat setelah melakukan perjalanan jauh dari rumah ke basecamp pendakian yang pastinya capek banget tuh.


Lalu bagaimana jika mountain sickness terjadi saat pendakian? Nah kalau penanganan yang satu ini maka istirahatlah sejenak untuk membuat tubuh beradaptasi dengan lingkungan. Jika dirasa sudah gak pusing dan jantung berdebar-debar maka boleh di lanjutkan pendakiannya tapi jangan memaksakan diri ya.


Tapi jika sudah beristirahat malah semakin parah maka jalan satu-satunya adalah turun ke tempat yang lebih rendah terlebih dahulu untuk membiarkan tubuh beradaptasi. Namun jika memang sudah parah sekali maka bawalah turun ke basecamp biarkan untuk istirahat di sana. Jadi jangan dipaksakan terus mendaki di kondisi seperti itu ya.


3. Hipothermia

Ini adalah salah satu penyakit paling mematikan yang ada di gunung nih selain terjatuh ke jurang atau salah jalur dan nyasar. Dan banyak korban jiwa berjatuhan karena terkena penyakit hypothermia atau yang lebih dikenal dengan sebuatan hipo ini.


Hipotermia ini sendiri terjadi karena dropnya suhu di dalam tubuh kita karena suhu di luar tubuh juga sedang dingin-dinginnya. Ditambah lagi dengan faktor kelelahan dan medan ketinggian yang begitu menguras tenaga dan juga pasokan oksigen yang menipis. Membuat tubuh kita rawan terkena serangan Hipotermia saat mendaki gunung. Apalagi ketika kondisi cuaca ekstrim seperti terjadinya badai atau hujan lebat di gunung. Maka resiko terkena hipotermia bakalan meningkat.


Oleh karena itu kita harus selalu senantiasa menghangatkan badan dan mengganti pakaian kering sebelum tidur. Hal tersebut diakukan untuk mencegah terkena hipotermia terutama saat tidur.


Biasanya tanda-tanda seseorang terkena hipotermia yaitu badan menggigil hebat, muka terlihat pucat dan kulit kering. Dan jika sudah parah hipotermianya maka bisa hilang kesadaran dan nafasnya menjadi lebih pelan dan pendek seperti orang yang sedang sekarat.


Cara Penanganan Hipotermia

Untuk cara penanganan jika ada salah satu teman kita yang terkena hypotermia saat pendakian maka segera bawa masuk kedalam tenda. Jika sedang berada di jalur maka cari tempat lapang lalu dirikan tenda terlebih dahulu. Lalu ganti pakaian si korban dengan pakaian ganti yang kering dan kalau bisa pakaian hangat. Kemudian ciptakan lingkungan hangat dengan mengoleskan minyak penghangat (minyak taeon, GPU, capkampak, dkk).


Setelah itu masukkan si korban ke dalam sleeping bag yang sebelumnya sudah dihangatkan. Cara menghangatkan sleeping bag sebelum digunakan yaitu dengan cara memasukkan air pasa ke dalam botol dan memasukkannya kedalam sleeping bag sebelum digunakan. Setelah si korban masuk ke dalam sleeping bag maka langkah selanjutnya ajak bicara si korban jika masih sadar dan buatkan minuman hangat seperti wedang jahe dan sejenisnya.


Jika korban dalam keadaan hilang kesadaran maka coba sebisa mungkin untuk menyadarkan si korban dengan mendekatkan minyak kayu putih di dekat hidungnya agar segera sadar. Jangan lupa untuk membuat air hangat di dalam botol dan masukkan ke dalam sleeping bag bersama korban untuk memberikan kehangatan.


Namun jika sudah parah maka lakukan kontak kulit dengan kulit untuk memancing suhu tubuh si korban kembali hangat dan normal. Ingat ya kontak kulit dengan kulit ini dilakukan ketika seluruh cara penanganan diatas tidak membuahkan hasil dan suhu tubuh si korban semakin drop. Dan kontak kulit ini harus dilakukan dengan sesama jenis dan kalau bisa yang masih ada ikatan saudara atau teman dekatnya.


Jika semisal si korban perempuan dan dia satu-satunya perempuan di rombongan kamu. Maka sebisa mungkin minta tolong ke pendaki lain yang perempuan untuk menemani dan menghangatkan serta mngganti pakaian si korban di dalam tenda ya. Biar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan dan merugikan lainnya.


Jika memang cara diatas tak membuahkan hasil maka bisa menghubungi tim SAR lewat panggilan darurat atau meminta bantuan pendaki lain yang sudah berpengalaman.


4. Radang Dingin

Penyakit Frostbite atau Radang dingin ini biasanya menyerang para pendaki yang mendaki di ketinggial lebih dari 4.000 MDPL atau di pegunungan bersalju. Meskipun tak begitu mematikan seperti hypotermia namun radang dingin ini begitu mengerikan jika sudah parah dan bisa kehilangan jari-jari tangan atau kaki kita.


Karena penyakit gunung yang satu ini menyerang bagian jari tangan maupun kaki. Maka tak heran jika para pendaki yang sering mendaki ke gunung Hilamaya atau gunung dengan salju maka tak jarang yang harus kehilangan jari tangan maupun jari kaki mereka karena penyakit ini.


Penyakit yang satu ini ditandai dengan kulit jari menjadi padat dan keabu-abuan dan jaringan kulit di tempat yang terkena penyakit ini akan mengeras dan mati rasa karena dingin. Hal tersebut karena jaringan kulitnya membeku akibat cuaca dingin dari luar yang ekstrim.


Cara Penanganan Radang Dingin

Untuk cara penanganannannya bisa dengan merendam bagian kaki atau tangan yang terkena penyakit ini dengan air hangat. Lalu keringkan dan bungkus bagian tubuh tersebut dengan kain hangat agar kembali hangat. Dan tentu semuanya dilakukan di dalam tenda ya dan usahakan ciptakan suasana hangat di dalam tenda untuk mempercepat penyembuhan penyakit ini.


Namun jika sudah parah dan jaringan kulit pecah karena membeku maka mau tidak mau harus dilakukan penganganan medis lanjutan dengan memotong bagian jari tangan atau kaki yang sudah membusuk agar tak merembet ke jaringan kaki. Makanya ini kenapa para pendaki terutama di pegunungan yang memiliki es ini tak sedikit dari mereka kehilangan jari tangan atau kaki.


5. Hipoksia/Kekurangan Oksigen

Penyakit yang satu ini memang sering menyerang para pendaki yang melakukan pendakian di gunung es atau yang memiliki ketinggian diatas 5.000 MDPL. Hal ini karena semakin tinggi tempat maka tekanan oksigen akan menurun. Hal tersebut lah yang menyebabkan Hipoksia yakni ketika kondisi jaringan tubuh kekurangan oksigen.


Penyakit yang satu ini biasanya dialami oleh para pendaki gunung yang memiliki riwayat asma atau yang tak melakukan pemanasan dan aklimatisasi terlebih dahulu dengan kondisi cuaca sekitar. Oleh karena itu biasanya untuk mendaki gunung Everest kita akan berada di basecamp Everest selama kurang lebih 1 bulan hingga 40 hari sembari latihan dan untuk mengkondisikan tubuh dengan kondisi cuaca disana.


Cara Penanganan Hipoksia/Kekurangan Oksigen

Untuk cara penangananannya yakni dengan cara menghirup oksigen dari tabung oksigen portable darurat. Dimana saat melakukan pendakian ke puncak Everest maka wajib hukumnya untuk membawa tabung oksigen portable ini selama pendakian.


Namun jika kehabisan oksigen maka resiko yang terjadi adalah tubuh bakal mengalami halusinasi dan puncaknya hilang kesadaran hingga kematian karena organ tubuh kekuranga oksigen dan tak bisa bekerja sebagaimana mestinya.


6. Sendi-Rian

Penyakit ini biasanya menyerang para pendaki Jomblo yang baper ketika sampai di puncak gunung dan lihat pendaki lain foto bareng pasangannya. Udah gitu posenya mesra lagi dan UWU banget deh dan bikin mata para pendaki Jomblo uji nyali. Sungguh menyayat hati dan pikiran serta masa depan tuh pemandangan seperti itu. 


Apalagi sebelum mendaki gunung dia dapet undangan dari mantan atau ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya karena naik gunung terus, eh.


Cara Penanganan Sendi-Rian

Cara penanganannya mudah banget kok yaitu dengan anti sendi-rian alias pensiun jadi pendaki jomblo dan lulus dari pertanyaan horor dari om, tante temen dan keluarga yakni "Kapan Nikah?"


Nah itulah beberapa penyakit yang sering menyerang para pendaki ketika berada di gunung yang harus diwaspadai terutama penykit yang terakhir alias nomor 6. Karena menurut survey dari para pendaki gunung ternyata para pendaki gunung itu kebanyakan adalah para jomblo terutama pendaki gunung yang cowok ya katanya.


Tapi yang pasti saat akan mendaki gunung maka haus selalu berdoa terlebih dahulu, cek kesehatan ya dan persiapkan fisik, mental, dan perlengkapan serta wawasan survival yang mumpuni. Agar selama pendakian mampu melakukannya dengan lancar dan selamat sampai puncak hingga pulang kembali ke rumah masing-masing bertemu dengan kasur kesayangan.


Tetap jaga diri dan jaga keselamatan ya

Salam Lestari dan tetap selalu Jelajah Lagi karena alam Indonesia ini sangat indah dan begitu menakjubkan.


Leave A Reply
  1. semuanya berbahaya ya, makanya pendaki ahrus dibekali caar cepat menanagani ini sebelum dibawa ke rumah sakit ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget kak
      Makanya sebelum mendaki gunung sebisa mungkin harus punya keterampilan survival dan tahu ilmu survival serta selalu bawa alat-alat survival kit namun jangan berharap mempraktekannya di alam bebas ya
      Lebih ke buat jaga-jaga saja jikalau memang kondisi tak terduga terjadi kepada kita atau rombongan saat bertualang dialam bebas

      Salam lestari dan tetap semangat Jelajah Lagi keindahan Indonesia

      Hapus