Terjebak Badai dan Petir Di Gunung? Lakukan 4 Hal Ini

badai pasir gunung bromo foto jpgpojokpitu

Selain hipotermia ternyata salah satu resiko besar lainnya bagi pendaki gunung yakni terjebak badai saat berada di gunung. Tentunya sebisa mungkin kita harus menghindari badai saat mendaki gunung. Namun tak jarang kita terjebak badai hujan, angin dan bahkan petir ketika sudah di tempat camp atau diatas gunung. Oleh karena itu kita harus paham dengan kondisi cuaca dan bagaimana menyelamatkan diri saat terjebak badai di gunung.

{getToc} $title={Table of Contents}

Badai sendiri pada dasarnya adalah perubahan cuaca di gunung yang sangat cepat dari cerah menjadi mendung, angin kencang hingga hujan lebat disertai petir. Badai ini biasanya terjadi pada musim penghujan atau pada musim pancaroba (peralihan musim) dimana kondisi cuaca sangat cepat berubah.

Itulah mengapa sebelum mendaki gunung kita harus mencermati dan selalu update tentang cuaca di gunung tersebut. Saat registrasi di pos pendakian jangan sungkan bertanya tentang cuaca di puncak gunung kepada petugas. Hal ini untuk mengantisipasi terjebak badai dan hal-hal yang tak terduga sekaligus menjadi patokan alat-alat pendukung apa saja yang harus kita persiapkan dan dibawa mendaki.

Memang badai di gunung ini sangat berbahaya dan harus dihindari. Bahkan salah satu Fotografer National Geographic Indonesia, Yunaidi menyebutkan bahwa, "Hujan di ketinggian disertai badai dan petir itu petaka bagi pendaki."

mengatasi badai di gunung
Sumber Youtube
Lalu bagaimana jika kita terjebak badai saat berada di tempat camp atau di puncak gunung. Nah berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan ketika dalam kamu terjebak badai di gunung dari Yunaidi, Fotografer National Geographic Indonesia yang berasil selamat dari maut ketika terjebak badai petir di gunung Kerinci pada 2012 silam.

1. Berlindung di dekat Pohon Rendah


Kenapa tidak berlindung di dekat pohon yang tinggi? Hal ini dilakukan untuk meminimalisir resiko tersambar petir atau tertimpa pohon yang tumbang. Karena petir lebih sering menyambar objek yang tinggi dimana jika kita berlindung di pohon yang tinggi itu sangat berbahaya.

Terlebih lagi pohon-pohon tinggi dan besar di gunung juga rawan tumbang akibat badai karena usia pohon tersebut sudah tua dan akarnya tak kuat menopang batang pohon yang terus menerus diterpa angin badai.

Tentu berlindung di pohon yang tak begitu tinggi menjadi pilihan yang tepat jika terjadi badai ketika di gunung.


2. Hindari Camp di Area Terbuka


Camp diarea terbuka ini memang sangat beresiko terlebih lagi saat musim hujan dan adanya potensi badai. Selain itu tempat terbuka seperti sabana sangat rentan dengan angin yang berhembus kencang yang tentu bisa merusak tenda mulai dari frame tenda patah hingga sobek bahkan di beberapa gunung pernah ada kejadian tenda yang terbang bebas diudara seperti layangan.

Selain itu di area terbuka juga saat terjadi badai sangat rentan dengan sambaran petir karena tidak adanya penghambat listrik selain tenda dan para penghuninya. Bahkan pada tahun 2017 lalu ada kasus dimana tiga orang pendaki tewas tersambar petir di Gunung Prau, Wonosobo. Hal tersebut terjadi karena mereka mendirikan tenda di tempat terbuka.

Tempat terbaik untuk ngecamp saat badai yakni mencari daerah yang lebih rendah dan agak tertutup seperti cerukan atau ngarai yang lebih rendah daripada area disekitarnya. Hal ini untuk mengindari potensi tersambar petir ketika terjadi badai petir. Pokoknya hindari camp dipuncak bukit atau area terbuka.


3. Jangan Berbaring Di atas Tanah Langsung


Jangan pernah lakukan hal ini jika kalian terjebak badai di gunung apalagi terjebak badai petir. Hal ini akan sangat membahayakan karena tanah dapat menghantarkan listrik dari sambaran petir. Bahkan ketika petir menyambar  bumi, maka listrik dari petir tersebut akan merambat di tanah hingga 30 meter dari pusat sambaran.

Tentu jika kita berbaring di tanah maka kita juga akan ikut tersambar listrik dari petir yang merambat di tanah. Oleh karena itu disarankan untuk meminimalisir kontak dengan tanah. Sebisa mungkin duduk lah diatas matras yang digulung dengan tetap memakai alas kaki. Hal ini dilakukan agar meminimalisir aliran listrik dari petir yang merambat di tanah dengan memanfaatkan matras sebagai penghambat aliran listrik atau isolator.


4. Jauhi Air, Logam dan Peralatan Konduktor Listrik Lainnnya


Hal ini dilakukan untuk meminimalisir potensi kita tersambar petir. Karena benda berbahan logam seperti pagar besi dan aliran air adalah konduktor yang baik untuk listrik. Sehingga petir akan tertarik dan menyambar barang-barang tersebut.

Sehingga saat terjebak badai petir di gunung maka sebisa mungkin kita menjauhi aliran air dan juga tutupi peralatan berbahan logam dengan kain dan tentu saja matikan peralatan elektronik seperti handphone dan kamera. Karena peralatan elektronik memiliki medan magnet dan bisa menjadi pemicu petir menyambar.

Yanuardi pun menegaskan bahwa cara-cara diatas bisa diterapkan untuk meminimalisir resiko tersambar petir saat terjebak badai digunung. Namun pada akhirnya yang terpenting adalah persiapan sebelum mendaki seperti kesiapan fisik, logistik, peralatan hingga ilmu dasar tentang survival. Dan tentu saja selalu cek kondisi cuaca di gunung yang akan menjadi tujuan pendakian.

Karena kesuksesan sebuah pendakian gunung itu tidak dinilai dari apakah kita sampai ke puncak gunung tersebut atau tidak, melainkan kita pulang dengan selamat. Jadi tetap jaga keselamatan dan cek cuaca dulu sebelum mendaki ya.

Salam lestari!
Jaga keselamatan dan kesehatan selama penjelajahan.

Redaksi Jelajah Lagi

Kami mengulas berbagai hal menarik tentang petualangan, pendakian gunung dan traveling serta perlengkapan outdoor untuk menunjang aktifitas alam bebas.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال