7 Kesalahan yang Harus Dihindari Pendaki, Jika Tak Ingin Mati di Gunung

7 kesalahan pendaki yang bisa buat mati di gunung - Foto instagram @nooranggraenim⠀

JelajahLagi.id - Sejak Januari 2013 hingga sekarang sudah ada lebih dari 200 nama pendaki yang meninggal ketika melakukan pendakian di gunung Indonesia. Dan kebanyakan mereka meninggal karena hipotermia dan jatuh ke jurang. Hal tersebut tentu menjadi perhatian terutama bagi para pendaki pemula maupun pendaki yang sudah lebih dahulu mengenal dunia pendakian. 

{getToc} $title={Table of Contents}

Memang sejak munculnya film 5cm yang mengangkat dunia pendakian semakin populer dan menjadi tren bagi para generasi muda. Karena selepas film tersebut tayang, gunung-gunung di Indonesia mulai ramai dengan para pendaki baru. Bukan hanya mapala atau pecinta alam saja, diatas gunung kini banyak bertebaran para selebgram, pemburu konten, dan pendaki yang orientasinya buka lagi mencintai alam atau menaklukkan ego. Akan tetapi mendaki gunung untuk menaklukkan puncak gunung meskipun tanpa pengetahuan survival yang memadai.


Tentunya hal tersebut akan berakibat fatal dan bisa saja membuat nyawa melayang ketika mendaki gunung. Karena kurangnya pengetahuan tentang SOP pendakian, perlengkapan yang safety dan aman hingga pengetahuan tentang navigasi serta survival. Dengan minimnya pengetahuan dan perlengkapan tersebut para pendaki pemula ini sangat rentan melakukan kesalahan yang akibatnya membuatnya harus ditandu oleh Tim SAR hingga ada yang harus meregang nyawa dalam pendakiannya.


Berikut ini beberapa kesalahan yang harus dihindari oleh para pendaki baik pendaki pemula, senior, tingkat dewa maupun pendaki ganda campuran yang so sweet banget kalau di  puncak. Karena kesalahan ini akan berakibat fatal baik bagi diri sendiri maupun kelompok pendakiannya hingga tim SAR yang harus evakuasi. Langsung saja ini dia 6 kesalahan yang harus dihindari pendaki jika gak mau mati di gunung.


1. Manajemen Logistik yang Buruk

Kita tahu kalau logistik ini adalah salah satu hal terpenting ketika mendaki gunung. Karena tanpa logistik kita akan kehilangan tenaga untuk melakukan pendakian. Dimana ketika pendakian tubuh kita memerlukan hingga 4.000 kilo kalori per hari untuk melakukan aktivitas pendakian.


Manajemen logistik pendakian - Foto instagram @delmaagung
Manajemen logistik pendakian - Foto instagram @delmaagung

Tentu karena angka besar tersebut memang dibutuhkan karena mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan yang memakan banyak tenaga. Gimana tidak, selama pendakian kita akan terus berjalan berjam-jam sambil menggendong tas keril yang berat. Makanya tenaga yang diperlukan juga besar apalagi perjalanannya menanjak yang membuat kaki harus mengeluarkan tenaga ekstra.


Karenanya untuk menggantikan tenaga yang hilang kita harus membawa logistik/makanan yang mampu mencukupi kebutuhan kalori dalam tubuh. Jadi logistik yang dibawa mendaki juga harus bisa memiliki angka kalori yang besar.


Namun bagi sebagian pendaki mereka kadang meremehkan masalah manajemen logistik ini. Dimana dengan alasan lebih cepat dibuat dan praktik mereka memilih membawa mie instan dan makanan instan lainnya. Padahal mie instan ini sangat tidak disarankan menjadi logistik utama dalam pendakian. Hal ini karena mie instan sulit dicerna tubuh dan sifatnya yang menyerap air dalam tubuh. Sehingga membuat tubuh kita kekurangan cairan yang berujung pada dehidrasi/tubuh menjadi lemas.


Padahal tubuh butuh banyak masukan makanan untuk tenaga dan menjaga suhu tubuh agar tetap hangat karena cuaca di gunung begitu dingin. Sehingga jika tubuh hanya makan mie instan maka kita akan cepat lemas dan lapar. Dalam kondisi ini biasanya rentan sekali terkena cidera baik kaki keseleo, kram, hingga susah bernafas. Bahkan yang terparah kita bisa kehilangan konsentrasi yang mengakibatkan tergelincir/jatuh ke jurang, pingsan hingga berujung pada kematian.


Lalu bagaimana manajemen logistik yang baik? Manajemen logistik yang baik ini kita harus memperhatikan kebutuhan kalori saat mendaki gunung. Dimana kita membutuhkan hampir 4.000 kkal perharinya selama pendakian. Tentu untuk mencukupinya kita dapat membawa daging-dagingan berlemak, coklat, dan karbohidrat (nasi) untuk memenuhinya. Atau gampangnya jangan bawa mie instan tapi bawa logistik yang organik yakni 4 sehat 5 sempurna biar aman.


Boleh saja sih kalau mau bawa mie instan saat pendakian, namun ingat jangan dijadikan logistik utama tapi jadikanlah logistik darurat jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan dan menuntut kita untuk survival.


2. Buruknya Sistem Packing Barang


Ada yang bilang tingkatan pendaki itu bisa dilihat dari cara ia packing barang di kerilnya. Karena packing barang bagi pendaki gunung adalah sebuah seni yang harus dikuasai. Karena packing barang yang baik akan memudahkan dan membuat barang bawaan tak begitu menyiksa pundak dan punggung.


Manajemen packing pendakian - Foto instagram @arvinadventurepku
Manajemen packing pendakian - Foto instagram @arvinadventurepku

Seperti kita tahu melakukan pendakian gunung maka harus membawa perlengkapan pendakian yang lumayan banyak dan semuanya harus masuk ke dalam tas keril. Tentu hal ini merupakan sebuah tantangan bagi para pendaki dalam hal mengatur dan menata barang-barang pendakian di dalam keril.


Jangan sampai ada yang digantung di luar keril kecuali air minum. Kalau misalnya panci digantung di luar keril malah nanti bakalan mengganggu baik pergerakan saat pendakian maupun pemandangan mata. Jadi lebih baik kalau mau bawa panci masukkin aja di paling bawah keril dan diisi dengan sleeping bag biar lebih aman dan kokoh.


Selain itu para pendaki pemula pun kadangkala hanya memasukkan pakaian alat-alat dan sebagainya begitu saja ke dalam keril tanpa dilapisi plastik/drybag. Hal ini jika hujan turun maka akan membuat pakaian ganti, sleeping bag, dan peralatan masak menjadi basah. Padahal sangat penting untuk barang-barang tersebut tetap kering terutama baju ganti dan sleeping bag.


Karena jika kita tidur dalam keadaan pakaian basah berpotensi besar terserang gejala hipotermia yang resiko fatalnya terjadi kematian. Hal tersebut karena tubuh tak bisa mempertahankan suhu normalnya karena pakaian yang basah ditambah suhu dingin di gunung saat tidur membuat suhu tubuh ikutan drop dan kedinginan. Apalagi karena posisi tidur kita akan minim sekali bergerak dan hal tersebut membuat pembakaran dalam tubuh tak optimal.


Oleh karena itu sebisa mungkin lapisi pakaian, sleeping bag, dan peralatan masak dengan plastik ya dan kalau perlu masukan satu matras untuk mengelilingi bagian dalam keril agar menahan air hujan rembes ke dalam. Ditambah lagi di bagian luar keril harus dan wajib memakai rain cover ketika hujan.


Lalu untuk teknik packing juga harus diperhatikan ya dimana urutan barang di dalam keril harus diperhatikan. Karena jika salah menempatkan tas keril akan terasa berat dan ujung-ujungnya membuat tulang punggung sakit karena beban yang tak berimbang.


Jadi harus tahu aturan packing dimana sleeping bag di taruh di bagian bawah lalu disusul pakaian ganti, peralatan masak dan logistik, lalu paling atas jaket/baju hangat dan rain cover. Susunan ini membuat beban terberat berada tepat di punggung atas kita sehingga beban akan stabil. Oya jangan lupa untuk barang-barang yang berat sebisa mungkin harus ditempatkan dekat dengan punggung ya dan jangan ditaruh di keril bagian atas biar gak ngemplad (posisi keril menarik kita ke belakang).


3. Pendakian Dengan Rombongan Besar


Sebagian pendaki pemula memang lebih percaya ikut open trip atau rombongan pendaki yang besar dengan anggota pendakian mencapai 30 orang. Memang bagi yang baru pertama kali mendaki gunung hal tersebut membuat tenang karena banyak orang selain itu izin ke orang tua juga bakalan lebih mudah karena banyak yang jagain.


Rombongan pendaki terlalu banyak - Foto instagram @khairun.nasihin
Rombongan pendaki terlalu banyak - Foto instagram @khairun.nasihin

Namun ternyata hal tersebut salah besar. Karena semakin banyak angota rombongan pendakian amaka akan banyak pula masalahnya. Mulai dari manajemen perjalanan, pembagian logistik dan logistik yang harus dibawa (tentu saja menjadi sangat banyak). Dan biasanya dalam rombongan besar ketika pendakian akan sering muncul masalah mulai dari konflik keinginan anggota, sikap intoleransi, terpisah dari rombongan, dan hal-hal lainnya yang bisa menghambat pendakian.


Selain itu ketika sampai di camp area maka akan banyak sekali PR yang harus dikerjakan mulai dari pasang tenda lebih dari 10 tenda, masak untuk 30 orang dan tentunya akan memakan waktu yang lama. Padahal hawa dingin mengintai terus dan apabila tubuh kekurangan masukan makanan bisa-bisa terserang gejala hipo.


Maka dari itu rombongan pendaki yang ideal itu adalah 4 sampai 6 orang saja. Hal ini karena dengan jumlah anggota tersebut kemungkinan terpisah selama pendakian tak akan terjadi dan mengurangi resiko tersesat atau jaruh ke jurang. Selain itu Leader pendakian yang ditunjuk dalam rombongan juga bisa memantau semua anggotanya selama pendakian dengan mudah.


4. Terkena Hipotermia disangka Kesurupan


Memang tak bisa dipungkiri kalau hutan dan gunung adalah tempat dari para makhluk tak kasat mata. Bahkan ada beberapa gunung di Indonesia yang begitu terkenal karena keangkerannya dan beberapa pendaki sempat merasakan gangguan secara mistis. Baik dengan melihat penampakan maupun disesatkan hingga berjalan muter-muter saja di tempat yang sama.


Hal tersebut membuat parno beberapa pendaki gunung baik yang pemula maupun pendaki senior yang belum menguasai lebih dalam tentang ilmu P3K dan Survival. Bahkan kadang jika ada salah satu teman rombongan yang tiba-tiba menggigil dan kehilangan kesadaran lalu mulai bicara ngelantur dan sukar diajak komunikasi. Teman-teman si korban malah menganggap temannya tersebut kerasukan makhluk halus.


Mereka pun segera membacakan doa untuk mengusir makhluk halus yang merasuki temannya tersebut. Padahal pada kenyataanya teman atau si korban terkena gejala hipotermia yang merupakan salah satu penyakit mematikan bagi pendaki gunung.


Kita lihat dulu tanda-tandanya, pertama si korban merasa menggigil, lalu hilang kesadaran, dan akhirnya bicara ngelantur alias halusinasi. Dan itu semua adalah tanda-tanda terserang gejala hipotermia. Jadi harus cepat dilakukan pertolongan pertama dengan membawanya masuk kedalam tenda dan mengganti pakaiannya dengan yang kering lalu ciptakan lingkungan yang hangat di dalam tenda. Jangan lupa berikan minuman hangat dan masukkan kedalam sleeping bag yang sudah dihangatkan sebelumnya.


Nah itu langkah yang benar karena jika memang kesurupan suhu tubuh si korban gak akan drop malah tambah panas, karena ada energi makhluk halus yang menempel di tubuhnya. Ditambah lagi kadang kalau kesurupan malah keluar alur pendakian dan kadang tenaganya bisa lebih kuat ketimbang biasanya (pengalaman pas di ciremai ada teman yang ketempelan makhluk halus, dia ditarik 1 orang gak berenti jalan ke semak-semak baru sama dua orang ditarik baru bisa berhenti).


Tapi kalau tubuh si korban malah terasa dingin dan menggigil itu adalah gejala hipotermia ya bukan kesurupan. Dan harus langsung dilakukan pertolongan pertama untuk mengatasi hipotermia biar tidak menjadi parah. Jadi jangan salah lagi ya membedakan yang kesurupan dan yang terkena gejala hipotermia.


5. Egois, Sok Jago dan Sok Kuat


Kalau kesalahan yang satu ini biasanya dilakukan oleh para pendaki pemula yang baru pertama kali naik gunung. Biasanya mereka akan bersikap sok jagoan dan sok kuat ketika diawal pendakian. Bahkan tak jarang meskipun sudah ditentukan posisi urutan selama pendakian namun malah nyosor dan jalan duluan di depan.


Tentu hal ini sangat berbahaya apalagi kebanyakan pendaki pemula ini tak memiliki kemampuan navigasi dan manajemen perjalanan termasuk mengetahui dan paham akan jalur pendakian yang sedang dijalani. Biasanya mereka jalan duluan karena egois dan sok jago dimana diurutan yang ditetapkan leader pendakian saat mulai mendaki terasa lambat dan malah bikin lelah. Akhirnya mereka nyali kedepan dengan egoisnya meninggalkan urutan yang seharusnya mereka berada.


Sehingga jika mereka jauh dari pengawasan leader rombongan atau teman pendaki senior bukan tak mungkin mereka akan tersesat. Terlebih lagi di beberapa gunung kadang jalur pendakiannya bercabang dan ada 2 jalur berbeda. Hal tersebut rawan membuat para pendaki terutama pendaki pemula yang egois, sok jago ini tersesat.


Lalu ada juga pendaki pemula yang sok kuat ketika dalam pendakian terutama yang berjiwa muda dan punya tenaga lebih. Karena sok kuat mereka berjalan lebih cepat dari yang lain dan selalu tergesa-gesa bahkan sedikit berlari ketika turun gunung. Padahal hal tersebut sangat bahaya terutama lari ketika turun gunung.


Selain rawan terpeleset berjalan atau berlari cepat saat turun gunung juga berpotensi membuat kaki mudah cidera baik itu kram maupun keseleo. Dan fatalnya ketika turun berlari bisa terpeleset dan jatuh ke jurang hingga mati kedinginan. Atau kalau beruntung palingan turun gunung ditandu tim SAR yang evakuasi.


6. Meninggalkan Teman Sependakian


Nah kalau yang ini jangan ditiru ya karena sangat berbahaya baik bagi yang meninggalkan maupun bagi yang ditinggalkan. Karena sejatinya pendakian gunung ini adalah dalam rangka menaklukkan ego diri dan salah satunya yakni menaklukkan ego diri untuk meninggalkan teman sependakian.


Meninggalkan teman pendakian - Foto instagram @wirasumerjaya
Meninggalkan teman pendakian - Foto instagram @wirasumerjaya

Biasanya saat pendakian maupun turun gunung, para pendaki pemula terutama yang muda dan punya fisik yang kuat kebanyakan akan berjalan duluan dan berpotensi meninggalkan rombongan. Sebenarnya hal tersebut sangat beresiko bisa saja yang di depan karena pendaki pemula hilang arah dan tersesat.


Tapi lebih bahaya lagi kalau teman yang ditinggalkan di belakang mengalami kelelahan dan juga cidera maupun kram. Apalagi kalau cuaca tiba-tiba berubah menjadi tak bersahabat seperti berkabut, hujan lebat hingga badai menerpa. Bukan tak mungkin jika teman yang tertinggal tersebut mengalami hal-hal yang mengerikan mulai dari berpotensi terkena gejala hipotermia hingga berujung mati kedinginan.


Hal tersebut telah terjadi di beberapa gunung dimana ada pendaki yang hilang setelah tertinggal karena izin istirahat terlebih dahulu. Namun teman-temannya tak ada yang menamani dan meninggalkannya karena tak tahu kalau dia sedang cidera dan kelelahan. Dan akhirnya tak kuat menahan dinginnya gunung daitambah tak membawa tenda maupun kompor karena dibawa teman yang lain. Lalu tak mengerti tentang ilmu survival dasar dan akhirnya terkena hipotermia hingga meninggal di gunung karena kedinginan.


Oleh karena itu lebih baik naik dan turun gunung selalu bersama dan saling menjaga. Lalu jangan lupa salah satu pendaki yang memiliki pengetahuan survival untuk menjadi sweeper dan tetap menjaga rombongan dari belakang. Oya kalau bisa untuk sweeper harus membawa tenda dan juga peralatan masak serta logistik untuk berjaga-jaga jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan terjadi. Jadi bisa langsung buka tenda dan masak air hangat.


7. Perlengkapan Pendakian yang Seadanya dan Gak Safety


Memang untuk melakukan pendakian gunung harus memiliki perlengkapan yang aman dan safety terutama untuk perlengkapan pribadi ya. Mulai dari sleeping bag, tas keril, sepatu gunung, jaket gunung, jas hujan dan perlengkapan lainnya.


Tapi memang namanya juga pendaki pemula kadang masih belum punya perlengkapan yang safety dan seadanya saja bahkan untuk penghangat tubuh hanya menggunakan sarung yang tipis. Padahal untuk tidur menggunakan sleeping bag dan jaket juga kadang masih tembus dinginnya. Lah ini malah cuma pake sarung aja kan bahaya.


Lalu kadang sepatu menggunakan sepatu futsal atau malah pakai sneker yang alasnya licin. Tentu saja sepatu tersebut tak direkomendasikan untuk mendaki gunung karena memiliki alas yang licin dan kurang grip cengkramannya. Apalagi kalau trek pendakiannya jalur tanah yang licin pasti bakalan susah dan rentan terpeleset. Jdi sebisa mungkin harus pakai sepatu gunung atau yang memiliki gerigi di bawahnya untuk ngegrip.


Sleeping bag juga jadi hal yang wajib dibawa sendiri karena fungsinya untuk menjaga tubuh tetap hangat ketika tidur. Kalau gak bisa beli sleeping bag yang branded ya bisa sewa atau pinjam ke teman ya jangan samapi lupa bawa. Karena kebanyakan kasus hipotermia di gunung terjadi ketika dalam kondisi tidur.


Jangan lupa juga bawa matras untuk alas tidur ya karena kalau gak pake matras bakalan dingin banget karena hawa dingin dari tanah langsung ke sleeping bag. Namun kadang pendaki pemula gak bawa matras dan sering terlupakan padahal sangat penting loh karena kita tidur kan tergeletak bukan sambil bediri. Kalau tidur sambil bediri nanti dikira lagi upacara pas ngantuk-ngantuknya abis begadang, eh.


Jadi sebisa mungkin lengkapi perlengkapan pribadinya ya terutama bagi pendaki pemula. Kalau belum bisa beli bisa pinjam ke teman atau sewa biar nyaman. Karena mendaki gunung ini adalah kegiatan yang sangat berat dan beresiko tinggi.


Nah itulah 7 hal yang harus dihindari jika tak mau namanya masuk dalam daftar di artikel ini Daftar lengkap pendaki meninggal dalam dekapan gunung Indonesia. Dan selamat dari berangkat, sampai puncak hingga kembali pulang kerumah dan bertemu keluarga serta kasur kesayangan yang kadang posesif kalau pagi-pagi, eh.

Redaksi Jelajah Lagi

Kami mengulas berbagai hal menarik tentang petualangan, pendakian gunung dan traveling serta perlengkapan outdoor untuk menunjang aktifitas alam bebas.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال